Bambang Brodjonegoro : Perlu Konsep Garam Industri Terintegrasi

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas garam rakyat yang masih rendah. Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro, mengatakan untuk meningkatkan kualitas garam dibutuhkan konsep garam industri yang terintegrasi. Terintegrasi dari lahan petaninya sampai kepada pabrik pengolahan peningkatan NaCl-nya. 

Pabrik-pabrik baru akan didirikan di dekat lahan tambak garam petani agar seluruh produksinya bisa langsung diolah. Di pabrik itu lah, teknologi washing plant akan diterapkan untuk menaikkan kadar NaCl menjadi 92 persen. 

“Setiap unit pabrik garam industri terintegrasi, ujar Bambang, memerlukan investasi Rp 40 miliar dengan kapasitas produksi mencapai 40 ribu ton per tahun,” ujar Bambang seperti dikutip dari republika.

Artinya, dengan membangun sekitar 15 unit pabrik di sentra produksi garap, maka akan dihasilkan sekitar 600 ribu ton garam rakyat yang sudah naik kelas menjadi garam industri. Angka tersebut mampu menutup kebutuhan impor untuk industri aneka pangan

Selain membangun washing plant, pemerintah juga akan memanfaatkan rejected brine atau limbah larutan garam jenuh dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pemerintah memiliki teknologi untuk mengolah larutan tersebut menjadi garam dengan kadar NaCl tinggi untuk memenuhi kebutuhan industri petrokimia, seperti kaca dan kertas.

“Kalau percontoha ini berhasil, maka kita akan perluas kapasitasnya dan menambah PLTU yang rejected brine-nya tidak dibuang ke laut, tetapi diolah menjadi garam,”pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here