Bergantung Cuaca, Produksi Garam Belum Optimal

Koordinator Perencanaan dan Kerjasama Pusat Riset Kelautan – BRSDM KP Ifan Ridho Suhelmi, mengatakan, Indonesia masih bergantung pada pasokan garam impor karena belum cukup mandirinya produksi garam di dalam negeri.

“Permasalahan garam nasional itu pertama dari metode pembuatannya, dihasilkan dari metode evaporasi. Kemudian sangat tergantung pada cuaca dan pengelolaan lahannya kecil. Di beberapa lokasi hanya sebesar 0,5 hektar dan produktivitasnya rendah, rata-rata 70 ton/hektar/musim,” jelas Ifan di  webinar virtual Potret Garam Nasional.

Garam yang dipasarkan terdiri dari garam untuk kebutuhan konsumsi dan untuk kebutuhan industri. Garam untuk kebutuhan konsumsi Indonesia sudah berswasembada karena kebutuhannya hanya 1,2 juta ton/tahun.

“Untuk kebutuhan industri ini yang selalu kita kekurangan. Kurangnya ini cukup banyak bahkan ijin impor tahun lalu itu keluar 3,745 juta ton untuk industri pertahunnya,” terangnya.

Lahan tambak garam di Indonesia masih terhitung sangat kecil, sekitar 24.000 hektar, dimana luas potensial seharusnya 30.000 hektar.

“Itung-itungan kasar 24.000 hektar dengan produktivitas normal atau musim oanas yang baik itu 100 ton/ha/musim, jadi itu rata-rata sekitar 2,4 juta ton. Padahal kebutuhan garam nasional ini lebih dari 4 juta ton, pasti secara hitung-hitungan sampai mana pun itu akan kekurangan,” tutur Ifan.

Ifan menambahkan, proses pembuatan garam terbilang cukup panjang, dimana untuk menghasilkan garam, petani harus menghilangkan 96,5 persen air.

“Jadi dalam 1 liter air yang jadi garam itu cuma 350 gram jadi 96,5 persen itu adalah air. Jadi untuk menekan biaya agar murah mau tidak mau harus menggunakan dari energi matahari yang gratis atau dengan cara tradisional,” ucapnya.

Metode tradisional ini juga mampu menghasilkan garam yang baik, tetapi memang ada prasyaratnya sebagai contoh harus menggunakan metode pemanenan Portugis dan Maduris.

Metode Maduris adalah ketika kristal terbentuk semua garam dipanen. Sedangkan metode Portugis merupakan cara memanen garam di atas garam, jadi garam yang sudah terbentuk tidak dipanen dulu tetapi dijadikan sebagai alas.

“Dengan metode produksi tradisional ini, petani kita mampu menghasilkan garam dengan kualitas yang bagus untuk bahan baku industri. Kemudian produksi garam secara tradisional meskipun dengan sistem Maduris tetapi dengan pengaturan bahan baku atau brine (air laut atau air asin) itu juga bisa menghasilkan garam dengan kualitas baik,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here