Cerita Petani Garam Tanpa Gudang Garam

Cerita Petani Garam Tanpa Gudang Garam

“Asin Manis Nasib Petani Garam”

Oleh : Nur Ifra Khumaera, S.Pi., M.Si

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau dan luas perairan laut 5,8 juta km2 (terdiri dari luas laut teritorial 0,3 juta km2, luas perairan kepulauan 2,95 juta km2, dan luas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) 2,55 juta km2).

Secara geopolitik Indonesia memiliki peran yang sangat strategis Karena berada di antara benua Asia dan Australia, serta diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, menempatkan Indonesia sebagai poros maritim dunia dalam konteks perdagangan global (the global supply chain system) yang menghubungkan kawasan AsiaPasifik dengan Australia.

Beberapa tahun belakangan ini, Pemerintah Indonesia genjar untuk menggenjot sektor kelautan dan perikanan agak berdiri digarda terdepan dalm mendorong ekonomi nasional. Bahkan dalam Kabinet Kerja Presiden Jokowi dengan tegas bahwa Indonesia harus bangkit dan mengembalikan harga diri bangsa melalui sektor kelautan dan perikanan.

Dalam mewujudkan cita-cita tersebut bukan tidak mungkin mengingat masa lalu bangsa Indonesia sangat terkenal sebagai negara maritim. Kerja sama berbagai stakeholder sangat diharapkan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul saat ini. Salah satu yang paling ironis hingga detik ini kita masih melakukan impor garam karena ketidakmampuan produksi garam lokal memenuhi permintaan masyarakat Indonesia.

Akan tetapi, Indonesia bukan tanpa usaha mewujudkan Indonesia yang swasembada garam Tahun 2020. Berbagai proyek telah digelontorkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan yang diterjemahkan melalui Program Usaha Garam Rakyat (PUGAR). Salah satu sentra garam yang ada di Indonesia yaitu Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Jeneponto memiliki potensi sumberdaya yang sangat besar baik didarat maupun dilaut. Produksi garam Jeneponto sangat terkenal dengan garam yang bersih dengan kualitas baik.

Kondisi ini tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan petani garam di Kabupaten Jeneponto. Banyak hal yang mempengaruhi sehingga nelayan dan petani tambak masih dalam taraf miskin. Tidak adanya mekanisme pasar dan industri pengolahan yang jelas sehingga memaksa petani dan nelayan langsung menjual garam hasil panen ke Makassar untuk kemudian dikirim ke kota-kota besar lainnya.

Potensi pacce’lang (tambak garam) di Kabupaten Jeneponto belum dimanfaatkan secara maksimal dan efisien. Indikasi dari pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan ditengah potensi sumberdaya yang melimpah memiliki dampak yang sangat nyata bahwa hingga saat ini Kabupaten Jeneponto masih menyandang status daerah tertinggal menurut Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Rujukan tersebut berdasarkan surat no 2421/Dt.7.2/04/2015 Tanggal 21 April 2015. Daftar Daerah Tertinggal dan Perbatasan tahun 2015 salah satunya adalah Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan.

Gambar : Aktivitas Petani Garam di Pacce’lang Kab. Jeneponto

Rendahnya kualitas garam tersebut mengakibatkan rendahnya harga yang diterima petambak garam, kondisi tersebut jelas mempengaruhi kesejahteraan petambak garam di Kabupaten Jeneponto. Selain kondisi iklim, ternyata kurangnya pendampingan dalam hal monitoring dan evaluasi membuat nasib para petani tambak garam berkutat dalam pusaran galing lubang tutup lubang. Keuntungan yang diperoleh belum mampu mengangkat status sosial petani maupun nelayan untuk keluar dari jeratan kemiskinan.

Berdasarkan hasil akumulasi penilaian efektivitas terhadap program PUGAR di Kabupaten Jeneponto berada pada kategori efektif meskipun masih terdapat beberapa kekurangan seperti pembentukan kelompok kurang efektif karena kurangnya kerjasama dalam kelompok petani, pendampingan kelompok juga kurang efektif dirasakan manfaatnya oleh petambak garam karena keterbatasan tenaga pendamping khusunya pendamping teknis, serta belum efektif atau kurang efektif dalam peningkatan kualitas garam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here