Cuaca Di Indonesia Penentu Produksi Garam

Pengamat pertanian sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas mengatakan penyebab Indonesia punya garis terpanjang tapi produksi garam tapi tidak dapat swasembada garam, yakni kendala cuaca.

Cuaca sulit diprediksi terlebih lagi adanya perubahan iklim dunia. Pada 2015 misalnya, karena cuaca mendukung, produksi garam nasional sebenarnya mencapai 2,9 juta ton.

Tapi giliran cuaca tidak mendukung, produksinya anjlok ke titik terendah menyentuh 180 ribu ton pada 2016, hanya selang setahun. Padahal, dulu di era 2001-2009, produksi garam terbilang stabil di kisaran 1-1,3 juta ton.

“Yang paling berpengaruh tetap cuaca, iklim. Pada 2015 itu El Nino, cuaca kering, produksi naik tajam. Pada 2016, ini kemarau basah, curah hujan tinggi,” jelas Andreas kepada CNN Indonesia.

Masalahnya, faktor cuaca ini memang tidak mudah diantisipasi oleh petani. Kalau mendadak hujan tinggi, mereka mungkin hanya menutup tambak dengan plastik, tanpa ada bantuan teknologi dan inovasi baru.

“Tapi apa cara ini diimbangi dengan harga garam yang pantas? Ini yang harus dipertanyakan. Karena pakai plastik pun butuh biaya tambahan, sementara garam impor lebih murah. Jadi, ini selalu jadi jalan pintas untuk penuhi kebutuhan garam di dalam negeri,” paparnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here