Oleh : Gabrielle Audrey

Judul diatas diambil dari sebuah ekspresi dalam bahasa inggris worth salt, dimana artinya adalah efisien dan mampu mendapatkan kehormatan karena pekerjaan atau kontribusi baik yang dilakukan. Zaman dahulu garam dianggap sangat berharga, bahkan dulu tentara dibayar dengan garam pada peradaban Romawi. Tahu kah anda, kata gaji dalam bahasa Inggris, salary, berasal dari kata salt atau garam. Ekspresi ini dipilih menjadi judul dengan tujuan mengajak kita semua berkaca apakah kita sudah efisien dan mampu untuk secara harafiah untuk memproduksi dan mengolah garam untuk memenuhi kebutuhan nasional?

Ada berbagai alasan, lebih tepatnya 5 mengapa suatu negara mengimpor, proses transportasi barang atau  komoditas  secara  legal dari suatu  negara  ke negara lain, umumnya melalui proses  perdagangan, yaitu ketersediaan, kualitas, varietas, harga, dan suplai. Ada beberapa faktor kenapa kita masih mengimpor garam, selain karena jelas suplai yang kurang, kualitas garam yang diproduksi juga tidak memenuhi standar industri. Lagi-lagi mengapa kita tidak dapat mencapai target produksi yang dibutuhkan? Ketika banyak petani garam yang mengeluh harga garam anjlok ketika pemerintah impor garam, padahal menurut pemerintah, mereka hanya mengimpor garam industri.

Kebijakan pemerintah perlu terlebih lagi memastikan hal ini, jangan sampai impor kebutuhan menjadi ancaman produk dalam negeri apalagi sampai jumlah stok berlebih. Sehingga petani garam merasa dirugikan disini. Jika pemerintah tidak dapat menjamin kesejahteraan mereka, tidak heran jika banyak petani garam beralih profesi. Padahal petani garam masih sangat dibutuhkan, seperti pada paragraf pembuka telah ditekankan bahwa garam memiliki peran yang sangat penting dalam semua bidang, tak terkecuali bidang industri. Bidang industri memerlukan garam kualitas tinggi dengan kandungan yang telah ditentukan, sehingga ada kalanya kita tidak dapat memproduksi garam tersebut karena garam dengan ketentuan seperti itu hanya bisa didapat melalui tambang garam. Tetapi banyak hal yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir impor garam hanya garam yang memang tidak dapat kita produksi.

Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah, tanahnya membentang luas, dengan 2/3 negara merupakan laut. Tapi hal ini bukan jaminan, karena untuk dapat membuat garam yang memenuhi target produksi diperlukan berbagai faktor pendukung. Sumber garam yang berada di Indonesia hanya berasal dari laut, pasalnya Indonesia tidak seperti Austria, Romania, Australia, dan beberapa negara lain yang memiliki tambang garam. Negara Indonesia sangat tergantung dengan laut dan iklim untuk memproduksi garam. Luasnya negara Indonesia menyebabkan perbedaan iklim pada daerah berbeda, berbeda pula. Sehingga tidak semua wilayah di Indonesia dapat dijadikan tempat produksi garam. Peruntukan tepi laut juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi garam. Banyak tepi laut yang sebetulnya memenuhi persyaratan lokasi dan iklim, malah digunakan untuk kepentingan lain yang dianggap lebih menguntungkan.

Jelas bukan kekayaan alam yang merupakan sumber daya yang menyebabkan tidak mencukupinya persyaratan akan kebutuhan garam. Bukan pula karena teknologi yang kurang berkembang, dan teknik tradisional yang digunakan untuk mendapatkan garam itu sendiri. Kitalah, sebagai penduduk Indonesia yang berperan disini. Teknologi ataupun teknik adalah alat yang kita ciptakan untuk membantu kita, sehingga jika alat ini pada akhirnya tidak dapat membantu kita mendapatkan apa yang kita butuhkan, kitalah yang harus berpikir kembali, bagaimana dapat mengembangkannya lagi sehingga dapat berguna dan memenuhi kebutuhan. Tentu tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk mengembangkan teknologi serta diri kita sendiri. Pengembangan teknologi ini tentu saja tetap harus mempertimbangkan efektifitas, ekonomi, serta lingkungan. Tetapi kedua hal inilah merupakan kesempatan besar kita, investasi jangka panjang, sehingga kedepannya memungkinkan kita untuk tidak perlu impor.

Hal yang juga perlu diperhatikan yaitu, memang kekayaan alam telah tersedia untuk kita, tetapi jika kita tidak dapat mengolah dan menjaga dengan baik, maka kekayaan itu akan menjadi sia-sia. Banyak daratan dekat pantai tidak dapat digunakan sebagai tempat produksi garam karena airnya telah terpolusi sehingga tidak dapat diolah lebih lanjut. Kita dapat memproduksi sendiri garam yang dapat memenuhi kebutuhan kita, selama sumber daya manusia juga terpenuhi. Sekarang, pemerintah telah mengembangan NTT sebagai tempat produksi garam dengan area yang cukup luas. Namun dapat kita lihat bahwa pada akhirnya sumber daya manusia yang menjadi kendala. Pemerintah sudah berusaha untuk memfasilitasi petani garam yang akan mulai mengusahakan garam di daerah tersebut, tapi hasilnya nihil, bahkan sampai dikeluarkan surat yang menyatakan jika dalam 6 bulan tanah tersebut belum dikerjakan, maka tanah tersebut akan kembali ke pemerintah. Mental dan keterampilan sumber daya manusianya jelas harus lebih dikembangkan, dengan pelatihan dan pembekalan lebih lanjut, serta jaminan akan kesejahteraan.

Kekayaan alam yang ada harus dapat kita jaga, manfaatkan, serta dilestarikan dengan lebih bijak lagi. Terutama untuk produksi garam, produk penting yang merupakan kebutuhan dalam berbagai bidang. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat jika dapat dilakukan dengan baik, tentu dapat menjawab target produksi garam. Di lain pihak, dengan teknologi yang maju dan juga keterampilan sumber daya manusia yang menunjang, maka produksi garam dapat juga menjadi lapangan pekerjaan, menghasilkan produk dengan kualitas dan kuantitas yang tentu saja maksimal, dan hal ini bukan masalah lagi. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here