Garam “Emas putih” di Malaka Bisa Go Internasional

garam malaka
PT IDK panen garam kristal di malaka ntt

Harry Kristanto Direktur PT Inti Daya Kencana (IDK) terkagum-kagum dengan kualitas “emas putih” atau garam industri di Kecamatan Malaka Barat.

Sejak proses pengaliran air garam oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat tahun 2018 lalu, kini sudah bisa dipanen ditengah pandemi covid19. Garam yang di Malaka ini apabila dikelola secara baik dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah NTT dan Pemkab Malaka juga warga maka bisa go internasional.

Harry Kristanto menyampaikan ini kepada wartawan usai panen garam bersama Gubernur NTT, Penjabat Bupati Malaka, dr. Meserasi Ataupah di Desa Rabasarahain, Sabtu (14/11/2020).

Turut hadir, Sekda Malaka, Donatus Bere, S.H juga Yos Harmen, Direktur Wilayah IV, BKPM dan Toni Tanduk, Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia serta unsur Forkopimda Malaka.

Dikatakan Harry, momen saat ini mengingatkannya pada dua tahun lalu dimana Gubernur NTT, Viktor Laiskodat turun langsung berkenaan dengan pengaliran air garam pertama. Pada saat panen perdana ini, gubernur kembali hadir yang menunjukkan dukungan penuh terhadap pengembangan garam industri di Malaka.

“Saya berterima kasih buat Pak Gubernur bersama jajaran juga unsur Pemda Malaka yang hadir kembali untuk panen raya garam industri di lahan PT IDK ini,” katanya.

Menurut Harry, proses dari garam industri ini memang agak lain dan memerlukan waktu agak lama sebelum panen. Hal ini karena dibutuhkan meja garam sesuai beberapa bulan yang lalu memanen secara cepat tetapi agak terlambat.

“Ini karena untuk mengolah garam industri itu memerlukan waktu yang cukup lama. Kita memerlukan meja garam itu yang kita lakukan. Garam industri yang kita olah itu harus dilihat tingkat salinitas dari kolam per kolam, karena akan dilakukan panen di meja garam,” katanya.

Menurut Harry, pada tahun 2021 rencananya akan dibuat fasilitas pencucian garam sebesar 100 ton per jam. Ini bermaksud agar mampu menghasilkan garam industri sebesar 97-98 persen sesuai spek garam industri dari Malaka.

“Kami ucapkan terima kasih soal proses perijinan baik oleh provinsi maupun Pemda Malaka dan kami akan lanjutkan ekspansi daripada garam sebesar 400 hektar,” jelas Harry.

Saat inipun, kata Harry, sudah diselesaikan 300 hektar di Weoe pada Desember 2020 nanti. Tahun 2021 juga akan buat pencucian garam sebesar 100 ton dan hasil dari 30 hektar dan 32 hektar itu akan diproses disana termasuk pengadaan kantor dan pusat training guna menjamin kualitas garam.

Menurutnya, dengan cuaca yang ada saat ini menunjukan kualitas garam industri di Malaka luar biasa. Ini untuk menjawabi kebutuhan garam nasional yang selama ini masih diimpor dari luar negeri.

“Saat ini masih dalam proses dan diharapkan tahun depan bisa produksi lebih banyak lagi. Apabila ini dikelola secara baik maka menjadi garam industri terbaik secara internasional,” tambahnya.

Mengenai tenaga kerja, Harry mengatakan, pembukaan lahan garam ini sekaligus menekan angka pengangguran. Pekerja merupakan tenaga lokal dan hasil usaha nanti 10 persen dari laba akan diberikan kepada pemerintah, tokoh agama dan pemilik lahan sebagai bentuk bagi hasil.

“Saya senang sekali karena gubernur NTT mendukung penuh dan berada paling depan. Jarang sekali di daerah lain yang gubernur sangat berani menyatakan sikap berdiri paling depan dalam mendukung investor dalam berinvestasi,” kata Harry.

Secara terpisah Direktur Wilayah IV, BKPM, Yos Harmen, mengatakan, dirinya mengapresiasi soal pengembangan lahan untuk usaha garam industri di Malaka.

Dikatakan Yos, potensinya sangat luar biasa karena sesuai permintaan 2.000 hektar dan sekarang ini masih 400-an hektar berarti masih perlu kerja bersama untuk mengolah lahan potensial ini.

“Indonesia masih butuh 50.000 hektar tambak garam untuk subsidi impor. Kalau NTT bisa mengisi 50.000 itu sangat besar menurut saya. Ini karena kondisi geografis sangat mendukung dengan curah hujan hanya 3 bulan pertahun,” jelas Yos.

Satu hal lagi, kata Yos, karena ini PMD bukan PMA maka perlu didorong apagi Gubernur NTT menyatakan sikap berdiri paling depan tentu ini menciptakan iklim investasi yang baik di NTT.

“Suatu hal menarik bahwa di sini tidak beli lahan tapi sewa lahan selama 30tahun berarti dukungan yang baik pada ekonomi rakyat. Mereka yang punya lahan tidak hilang haknya tetapi mendapat bonafit setiap kali panen,” pungkas Yos.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here