Garam Industri Yang Terlarut Dalam Pencucian

Kebutuhan garam industri sebagai bahan baku industri terus meningkat. Peningkatan kebutuhan garam berasal dari kegiatan industri manufaktur yang terus tumbuh. Disamping ekspansi kapasitas industri pengguna yang ada, juga terdapat penambahan industri baru yang membutuhkan garam seperti industri soda ash.

Pada tahun 2020 kebutuhan garam diperkirakan mencapai 4,46 juta ton, berdasarkan data Badan Pusat Stastistik. Kebutuhan garam untuk industri manufaktur sebesar 84%, atau sebanyak 3,7 juta ton. Sedangkan kebutuhan untuk rumah tangga sebesar 321 ribu ton, komersial 377 ribu ton, pertenakan dan perkebunan 21 ribu ton. Dibandingkan dengan tahun 2019 kebutuhan garam nasional sebanyak 4,16 juta ton.

Kebutuhan garam industri selama ini dipenuhi dengan impor. Disisi produksi dalam negeri, garam, kualitas garam yang dihasilkan petambak tidak memenuhi standar garam industri. Kandungan NaCl garam petambak masih dibawah 94% (rata-rata 89%), sedangkan spesifikasi garam bahan industri dengan kualitas kandungan NaCl minimal 96% untuk industri soda kaustik dan min 97% untuk aneka pangan.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut meresmikan 7 washing plant/alat pencuci dan pemurnian garam di berbagai lokasi. Pembangunann washing plant bertujuan untuk meningkatkan kualitas garam rakyat guna memenuhi kebutuhan industri, diharapkan mampu menyerap produksi garam rakyat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan pada waktu lalu menyatakan output garam yang dicuci sesuai SNI 3556:2016. Dengan output tersebut garam yang dicuci diharapkan dapat menjadi garam bahan baku industri. Namun berdasarkan data di Kementerian Perindustrian kode SNI 3556:2016 adalah kode SNI untuk garam konsumsi beriodium, dengan kadar NaCl 94%.

Garam output pencucian tidak dapat masuk sebagai bahan baku industri aneka pangan maupun industri kimia. Kementerian Perindustrian sendiri telah menyaratkan khusus bagi garam industri dengan SNI yang berbeda dengan SNI garam konsumsi beriodium. Garam industri aneka pangan dengan kode SNI 8207:2016, syarat mutu kandungan NaCl minimal 97%. Serta, garam soda kaustik dengan kode SNI 0303:2012, syarat mutu kandungan NaCl minimal 96%.

Patut disayangkan Kementerian Perikanan dan Kelautan memberitakan output garam pencucian dapat masuk ke dalam industri. Pada kenyataannya garam yang dihasilkan masih belum dapat digunakan oleh industri karena perbedaan spesifikasi yang dibutuhkan.

Jika garam hasil washing plant dipaksakan masuk sebagai bahan baku industri. Maka Harga garam yang dihasilkan dari pencucian garam tidak ekonomis bagi industri.

Garam petambak yang dicuci membutuhkan waktu proses pencucian lebih lama untuk mengurangi kadar Mg dan Ca yang sesuai spesifikasi. Kandungan Magnesium (Mg) dan Kalsium (Ca) pada garam petambak rata2 0,63%-0,92% Mg dan 0,14% Ca. Sedangkan spesifikasi garam industri untuk aneka pangan 0,06% Mg dan 0,06% Ca. Pencucian garam yang lebih lama akan menyusutkan volume garam itu sendiri, hal ini karena sifat dari pada garam yang mudah larut dalam air.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here