Beranda Kolom GARAMKU SUDAH TAK ASIN LAGI

GARAMKU SUDAH TAK ASIN LAGI

produksi garam
Oleh : Juhendi

“Rasanya hambar, tambahkan garam !”. Si asin yang selalu hadir hampir disetiap makanan tampaknya punya cerita memilukan, tak seasin rasanya, kini nasibnya hambar, tangan-tangan terampil yang biasa membantunya menjadi butiran kristal kini mulai berpaling ke lahan lain yang lebih menjanjikan.

Masyarakat luas khususnya konsumen rumah tangga hanya tahu bahwa garam ada di dapur, mereka tak sempat memikirkan bagaimana proses dan nasib para petani garam yang bekerja keras dengan segala lika-likunya.

Berdasarkaan data yang disampaikan oleh KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan) menyebutkan jumlah petani tambak garam di Indonesia menurun drastis, yakni dari 30.668 jiwa pada tahun 2012 menjadi 21.050 jiwa di 2016.[1] Artinya, ada sekitar 8.400 petani garam yang alih profesi, pertanyaannya kenapa petani garam memilih untuk alih profesi ?

Baru-baru ini pemerintah memutuskan untuk mengalokasikan impor garam sebanyak 2,7 ton.[2] Jumlah tersebut merupkan upaya untuk menutupi kebutuhan garam industri yang belum dapat dipenuhi oleh petani maupun industri garam dalam negeri.

Berikutnya, kenapa permintaan garam industri tidak dapat dipenuhi oleh garam lokal? jawabanya ada di lapangan, ada di petani. Masalahnya cukup kompleks, bukan hanya jumlah petani yang terus menurun dari tahun ke tahun, tapi faktor lain seperti ketersediaan lahan, teknologi yang digunakan, kualitas garam dan kestabilan harga juga mengakibatkan produktivitas garam lokal menurun.

Negara kita memiliki garis pantai yang luas yang dapat dijadikan lahan tambak garam, namun produksi garam nasional jauh dari kata cukup, alasannya yaitu tidak semua air laut memiliki kandungan yang cocok untuk dijadikan bahan baku garam.

Luas lahan tambak garam mengalami penyusutan dari tahun ke tahun, salah satunya akibat alih fungsi lahan menjadi pemukiman penduduk. Indonesia memerlukan 40.000 hektare lahan tambak untuk memenuhi kebutuhan 4,2 juta ton garam setiap tahun, sedangkan total lahan yang saat ini tersedia hanya sekitar 30.000 hektare.[3]

Kendala lain yaitu tata guna lahan yang kurang efesien, saat ini lahan yang digunakan para petani masih bersifat musiman, masih bergantung pada cuaca (cahaya matahari). Mayoritas petani hanya memproduksi garam pada saat musim panas, sedangkan ketika musim hujan tiba maka petakan-petakan lahan tambak garam akan berubah jadi tambak-tambak udang atau ikan bandeng.

Teknologi kristalisasi dan pemurnian garam masih dilakukan secara tradisional, proses pembuatannya masih mengandalkan panas sinar matahari. Berbeda dengan Australia yang memiliki musim panas sekitar 8-9 bulan, musim panas di Indonesia maksimal hanya empat bulan, sehingga kondisi cuaca dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas produksi garam lokal.

Saat ini Indonesia hanya mampu memproduksi garam konsumsi yang memiliki kandungan Natrium Clorida (NaCl) sekitar 94%, air laut 5% dan yodium berkisar antara 30-80 ppm (30 – 80 mg yodium dalam 1kg garam). Sedangkan garam untuk kebutuhan industri terpaksa masih harus mengandalkan impor, hal ini karena standar kandungan NaCl dalam garam industri harus melebihi 97%.[4]

Kebijakan impor selalu menghadirkan situasi dilematis, impor dilakukan untuk menutup defisit garam nasional. Kekhawatiran akan terpuruknya nasib petani garam juga bukan tanpa alasan, setiap kali garam impor tiba di Tanah Air selalu diikuti dengan anjloknya harga garam di tingkat petani. Akibatnya, harga garam petani bisa jatuh pada kisaran hanya Rp 200 per kilogram. Sedangkan normalnya harga garam berada di kisaran Rp 1.500 – 2.000 per kilogram.[5]

Inilah yang perlu diperhatikan, tujuan impor adalah untuk menjamin kebutuhan garam nasional terpenuhi, bukan untuk menekan harga jual garam lokal, sehingga pemerintah perlu dan harus hadir untuk menjamin kestabilan harga jual garam lokal.

Impor bukan solusi untuk jangka panjang, jika saat ini petani lokal belum dapat memenuhi permintaan garam nasioanal, maka fokusnya adalah upaya meningkatan kualitas dan produktivitas petani lokal, sehingga petani tidak lagi dihadapkan pada masalah keterbatasa lahan, teknologi yang kurang efesien, dan tidak lagi dipusingkan dengan harga jual yang tidak menentu. Jika carut-marut ini tetap dibiarkan, mungkin saja tidak ada lagi petani garam yang bertahan, mereka harus hidup sehingga tidak ada lagi petani garam yanng beralih profesi akibat garam yang sudah tak asin lagi.


[1] https://www.detikperistiwa.com/news-50120/impor-garam-2018.html

[2] https://industri.kontan.co.id/news/alokasi-impor-garam-2019-turun-37-menjadi-27-juta-ton

[3] https://bisnis.tempo.co/read/1208879/kkp-tangkap-dua-kapal-pencuri-ikan-berbendera-filipina

[4] https://kumparan.com/@kumparanbisnis/kenapa-indonesia-masih-impor-garam-industri

[5] https://news.detik.com/kolom/d-3941338/perlindungan-petani-garam

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here