Beranda Kolom Kenapa Indonesia Masih Impor Garam

Kenapa Indonesia Masih Impor Garam

Indonesia mempunyai panjang garis pantai terpanjang nomor dua di dunia, dengan panjang kurang lebih 54 ribu kilometer. Dengan memiliki panjang garis pantai ini tak bisa menjamin Indonesia menjadi negara produsen garam, dan faktanya Indonesia masih harus mengimpor garam untuk memenuhi kebutuhannya.

Jika berdasarkan catatan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi garam nasional di tahun 2019 mencapai 2,32 juta ton. Sebelumnya total produksi garam nasional mencapai 2,71 juta ton dengan komposisi 2,35 juta ton dihasilkan oleh petani garam rakyat dan 367.260 ton oleh PT Garam.

Jika melihat data tahun 2017 produksi garam dalam negeri mencapai 1,11 juta ton. Sedangkan di tahun 2016 produksi garamnya sebesar 0,17 ton. Jika kita melihat angka produksi garam dalam negeri tahun 2015, produksi garam kita mencapai 2,80 juta ton, ini adalah produksi terbesar selama lima tahun terakhir dalam produksi garam di Indonesia.

Jika melihat angka-angka diatas mengapa Indonesia masih mengimpor garam? Ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya. Indonesia memang memiliki panjang garis pantai yang panjang tapi sayangnya tak semua pantai di Indonesia bisa dijadikan lading garam. Dari panjang 54 ribu kilometer garis pantai Indonesia ternyata hanya sekitar 250 kilometer saja yang bisa dijadikan ladang garam.

Fakor selanjutnya adalah yang mejadi permasalahan utama untuk mendapatkan garam dengan kualitas bagus yang bisa dijadikan garam industri, yaitu faktor cuaca, garam yang baik kualitasnya ternyata memerlukan musim kemarau yang cukup panjang. Selain itu faktor yang mempengaruhi adalah kelembaban udara, kelembaban udara di Indonesia ternyata cukup tinggi yaitu sekitar 60-70 % dimana kelembaban yang tinggi itu menyebabkan mutu garam menjadi rendah.

Faktor yang terakhir tetapi mempunyai peran cukup signifikan yaitu garam kita masih diolah secara tradisional sehigga kualitas dan kuantitas garam menjadi tidak stabil. Hal ini mengakibatkan garam dari petani garam kita tidak bisa diserap oleh industri makan dan minuman. Karena industi makanan dan minuman membutuhkan garam dengan kadar NaCl diatas 95%, sedangkan garam yang dihasilkan dari tambak tradisional menghasilkan garam dengan kandunga NaCl dibawah 92%.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here