Harga Garam Anjlok Karena Cuaca

Harga Garam

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil garam, meski belum sebesar China, Amerika Serikat atau India yang memproduksi garam 26 juta ton pertahun. Rata-rata produksi garam di Indonesia 1,1-2 juta ton pertahun, saat memasuki musim kemarau. Namun kondisi cuaca akhir-akhir ini yang tidak menentu, hingga membuat petani garam merugi. Kondisi cuaca yang tidak stabil membuat harga garam merosot menjadi Rp500 – Rp900 per kilogram dari biasanya Rp1500 per kilogram.

Di Kota Surabaya, petani garam yang masih bertahan tinggal 50 orang. Padahal tahun lalu masih ada sekitar 100 petani garam.

“Harga merosot jadi Rp 500 sampai Rp 900 per kilogram. Belum lagi hujan yang masih turun meski sudah musim kemarau. Ada faktor alih fungsi lahan juga sama pemiliknya,” kata Kabid Kelautan dan Perikanan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Aswan, seperti dilansir Radar Surabaya. 

Aswan menambahkan, ketika masih ada hujan maka metodenya pakai membran. Prosesnya tetap sama, hanya beda medianya saja. Yakni, menempatkan air tuah (bahan garam dari air laut) ke media terpal atau membran saat pengeringan.

“Dengan metode ini sebenarnya kualitas dan kuantitasnya meningkat,” terangnya.

Sementara, Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) memperkirakan produksi garam nasional pada tahun ini hanya sekitar dua juta ton atau turun sebesar 30 persen bila dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 2,7 juta ton akibat musim hujan yang lebih lama dari musim kemarau. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here