Iklim Sebagai Faktor Radikal Pendorong Impor Garam di Indonesia

petambak garam
Penulis : Ali Wardani, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar 

Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki luas daerah lautan lebih besar daripada luas daerah daratan. Tercatat luas daerah laut Indonesia mencapai 3,25 juta Km² dan daratan hanya 2,1 juta Km². Sedangkan untuk pantai, Indonesia menempati tempat ke-4 negara dengan pantai terpanjang didunia yaitu sekitar 95.181 Km. Dengan luas wilayah laut dan pantai sebesar itu, sudah sepantasnya Indonesia menjadi salah satu negara penghasil garam terbesar di dunia.

Meski memiliki potensi sangat besar menjadi negara penghasil garam terbesar di dunia, nyatanya Indonesia hanya mampu meraih urutan ke-30 dari 60 negara penghasil garam terbesar di dunia. Ketidakmampuan Indonesia untuk berkompetisi dengan negara lain ini diperparah dengan ketidakmampuan produksi garam nasional yang tidak dapat memenuhi permintaan garam nasional sehingga Indoneisa harus megimpor garam. Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia harus mengimpor garam sebanyak 2552832,200 Kg untuk memenuhi permintaan garam nasional di tahun 2017[1]. Hal ini tentu menjadi sebuah pertanyaan besar mengingat besarnya potensi kelautan Indonesia dalam pembuatan garam.

Salah-satu faktor radikal atau mendasar produksi garam di Indonesia yaitu faktor Iklim. Secara sederhana, Iklim yang tepat untuk memproduksi garam memiliki 4 komponen syarat yang harus terpenuhi. Komponen-komponen tersebut antara lain:

  1. Curah hujan tahunan yang kecil, curah hujan tahunan daerah garam antara 1000-1300 mm/tahun.
  2. Mempunyai sifat kemarau panjang yang kering yaitu selama musim kemarau tidak pernah terjadi hujan. Lama kemarau kering ini minimal 4 bulan (140 hari).
  3. Mempunyai suhu atau penyinaran matahari yang cukup. Makin panas suatu daerah, penguapan air laut juga semakin cepat.
  4. Mempunyai kelembapan rendah/kering. Makin kering udara di daerah tersebut, penguapan akan makin cepat[1].

Hujan adalah salah-satu unsur utama yang mempunyai pengaruh besar dalam proses produksi garam, karena berpengaruh pada kristalisasi garam[2]. Hujan yang turun akan mengencerkan larutan pekat air laut yang berada pada lahan produksi. Padahal larutan pekat air laut inilah yang merupakan bahan baku yang selanjutnya akan dikristalisasi menjadi garam. Selain menggangu proses kristalisasi garam, hujan juga dapat menghambat penguapan air laut pada proses pembuatan garam sehingga waktu penguapan menjadi lebih lama. Oleh karena itu, hujan yang turun pada musim kemarau atau pancaroba sangat menghambat proses pembuatan garam di Indonesia.

Selain hujan, salah-satu syarat lain yang berpengaruh dalam pembuatan garam yaitu cuaca yang harus terjaga pada kemarau kering yang berlangsung minimal 4 bulan atau 140 hari. Pada musim kemarau panjang, suhu yang panas dan matahari yang selalu bersinar terik (tidak tertutup awan) akan sangat membantu proses penguapan air laut pada proses pembuatan garam. Tentunya semakin panas suhu udara dan semakin terik matahari bersinar, maka proses penguapan juga akan semakin cepat dilakukan. Tercatat bahwa lama musim kemarau di Indonesia hanya 3-4 bulan. Sangat berbeda dengan Australia yang miliki lama kemarau 9-10 bulan.

Syarat terakhir yang sangat berpengaruh dalam pembuatan garam adalah kelembaban udara. Semakin rendah kelembaban, penguapan semakin tinggi, pada umumnya kelembaban udara di daerah tropis cukup tinggi. Bahkan dimusim kemarau kelembaban masih diatas (>) 60%[3]. Peristiwa inilah yang membuat proses pembuatan garam di Indonesia relatif lebih lama dibandingkan dengan Australia yang memiliki tingkat kelembaban udara 30-40%.

Berdasarkan berbagai data tersebut, dapat disimpulkan bahwa Iklim merupakan hambatan utama dalam produksi garam sehingga Indonesia masih mengimpor garam dari negara lain terutama Australia. Dari ke-4 syarat iklim yang tepat untuk produksi garam, Indonesia hanya memenuhi 2 diantaranya. Hujan di areal produksi garam pada musim kemarau sangat mengganggu proses kristalisasi larutan pekat air laut menjadi garam. Selain itu lama kemarau dan tingkat kelembaban udara di daerah tropis semisal Indonesia yang berkisar 3-4 bulan dengan kelembaban udara antara 60%-80% menjadi faktor pendukung lainnya yang menghambat produksi garam. Kondisi ini sangat berbeda dengan Australia yang memiliki lama kemarau 9-10 bulan dengan tingkat kelembaban udara sekitar 30-40%.


[1] Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Prototip Informasi Iklim dan Cuaca untuk Tambak Garam, (Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan, 2005), h. 10.

[2] Tikkyrino Kurniawan dan Achmad Azizi, “Dampak Perubahan Iklim terhadap Petani Tambak Garam di Kabupaten Sampang dan Sumenep”, Masyarakat dan Budaya 14, no. 3 (2012): h. 504.

[3] Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Protip Informasi Iklim dan Cuaca untuk Tambak Garam, (Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan, 2005), h. 10.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here