Impor Garam Versus Devisa Negara

Impor garam memiliki nilai tambah yang luar biasa bagi perekonomian nasional. 108 juta dolar impor garam menghasilkan devisa negara sebesar 37,7 miliar dolar AS ekspor produk berbahan baku garam.

Kebutuhan garam di dalam negeri bakal terus meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini, permintaan garam di kisaran 4 juta ton lebih per tahun. Jumlah tersebut terus meningkat seiring pertumbuhan industri.

Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Toni Tanduk mengatakan bahwa Kebutuhan garam di 2025 akan mencapai 7 juta ton, kemudian kebutuhan garam tahun 2030 kemungkinan akan di 10 juta ton. Toni mengatakan hal ini pada webinar tentang Swasembada Garam Kamis (3/12/20).

Kenaikan angka tersebut semakin tinggi karena setiap sektor memiliki kenaikan dalam penyerapannya. Misalnya pada kondisi normal, industri kimia ada kenaikan 5-6%, kemudian sektor konsumsi di angka 3%. Angka penyerapan di sektor konsumsi tidak sebesar industri kimia karena peningkatannya tergantung pada populasi. “Industri aneka pangan 7-8% karena yang paling tinggi sektor ini. Industri lainnya 4-5%,” jelasnya.

Setiap negara melakukan importasi maka ada devisa yang keluar. Impor garam pada 2019, mencapai 2,6 juta ton yang menguras devisa 108 juta dolar AS.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan (5/10/20) Garam yang diimpor adalah garam bahan baku industri yang diolah menjadi berbagai macam produk industri nasional. Produk industri bahan baku garam diekspor ke berbagai negara, tercatat industri pengguna garam berhasil mengekspor senilai 37,7 miliar dolar AS.

Impor garam memiliki nilai tambah yang luar biasa bagi perekonomian nasional. 108 juta dolar impor garam menghasilkan devisa negara sebesar 37,7 miliar dolar AS ekspor produk berbahan baku garam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here