Indonesia Membutuhkan Investor Pabrik Garam Untuk Industri Mamin Farmasi

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut setidaknya dibutuhkan 15 investor pabrik garam terintegrasi guna memenuhi kebutuhan garam industri makanan dan minuman, farmasi (maminfar) sebesar 700.000 ton per tahun.

Kementerian Perindustrian mencatat proyeksi kebutuhan garam nasional tahun ini akan mencapai 4,6 juta ton, yang sebagian besar atau 84 persennya merupakan kebutuhan dari industri manufaktur.

Adapun khusus kebutuhan garam aneka pangan dan pertambangan dengan impor sebanyak 623.285 ton, serta garam farmasi dan pro analisa dengan kebutuhan impor 7.564 ton.

Sementara berdasarkan neraca garam 2020, volume garam impor berkontribusi hingga 50,29 persen dari ketersediaan garam nasional. Adapun, kebutuhan garam nasional tahun lalu sebanyak 4,46 juta ton dengan kebutuhan industri mencapai 83,86 persen atau 3,74 juta ton.

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material BPPT Eniya Listiani Dewi mengatakan terbangunnya minimal 15 pabrik tersebut menjadi skenario yang diharapkan BPPT dengan inovasi teknologi yang saat ini sudah berhasil digunakan di pabrik garam hasil kerja sama dengan PT Garam (Persero) di Gresik, Jawa Timur.

Sebagai gambaran, Eniya menyebut kebutuhan investasi BPPT untuk pabrik berkapasitas 40.000 ton tersebut berkisar Rp53 miliar. Tetapi, itu modal minimal untuk bangunan dan peralatannya saja mengingat dalam kerja sama ini PT Garam sudah menyumbang banyak asetnya seperti lahan dan bahan baku.

“Pabrik tersebut statusnya masih trial production sehingga masih jadi tanggungjawab BPPT untuk nantinya menyerahkan kerja sama operasi pada PT Garam. Pabrik ini mengolah garam rakyat menjadi industri dengan teknologi 3 washing plants yang harapannya bisa dikloning menjadi 15 pabrik ke depannya,” katanya kepada Bisnis.

Eniya mengemukakan pada tahun ini sudah ada 3 rencana untuk mengkloning pabrik tersebut. Ketiganya ada di Cirebon, Rembang, dan satu lagi akan dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Menurut Eniya, BPPT akan selalu siap menyerahkan blueprint dan membantu investor yang ingin langsung melihat proses produksi garamdengan standar SNI untuk industri di Pabrik Gresik. Dia juga mengharap lebih banyak keterlibatan swasta ke depannya untuk pengembangan garam industri ini.

“Kami berharap pabrik garam industri bisa dibangun semua pihak. Selama ini permasalahan garam rakyat yang tidak bisa memenuhi kebutuhan industri karena kadar magnesium dan kalsium yang tinggi sehingga dengan teknologi washing plants ini akan sangat memungkinkan mengubah garam petani menjadi garm industri,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi tahun ini menargetkan produksi garam nasional mencapai 3,1 juta ton dari produksi garam nasional periode tahun lalu 3 juta ton.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Safri Burhanuddin mengatakan saat ini kondisi alam kurang mendukung akibat curah hujan yang tinggi. Dia menerangkan bahwa produksi garam nasional dari PT Garam dan Garam Rakyat masih tertahan di angka kurang lebih 1,3 juta ton berdasarkan data 15 Januari 2021 dari KKP.

“Target kita 2021 itu 3,1 juta ton, tetapi melihat angka di tahun sebelumnya, paling tidak bisa mencapai 2,5 juta untuk produksi kebutuhan garam nasional. Untuk mencapai angka tersebut, kita harus konsisten untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas dari garam nasional ini,” kata Safri.

Adapun Kemenko Marves bersama KKP dan BPPT telah menyusun strategi untuk 2021 terkait peningkatan kualitas dan kuantitas dari produksi garam ini.

Safri menyebut kementeriannya bertanggung jawab pada proses ekstensifikasi lahan garam dengan rencana beberapa tempat berikutnya seperti Teluk Kupang, Malaka, Nagekeo, Timor Tengah Selatan, dan Sumbawa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here