Beranda Kolom Jalan Panjang Garam Di Berbagai Peradaban

Jalan Panjang Garam Di Berbagai Peradaban

sejarah garam

Jalan Panjang Garam Di Berbagai Peradaban

Siapa yang tak tahu garam iya butiran kristal putih dan terasa asin jika kita rasa, ternyata fungsi garam tidaklah sesederhana yang kita kenal selama ini. Banyak fungsi dari garam antara lain untuk obat-obatan, menyuburkan lahan pertanian, pewarna tekstil dan masih banyak fungsi lainnya.

Garam adalah zat yang penting dalam tubuh kita, bukan hanya untuk merangsang selera makan kita tetapi juga untuk kebutuhan biologis tubuh kita. Garam juga memiliki bermacam-macam jenisnya. Yang paling sering kita jumpai adalah garam yang kita konsumsi tetapi masih banyak varian dari garam.

Banyak peradaban kuno, garam dijadikan alat tukar/uang. Para serdadu ataupun pekerja diupah dengan garam. Saking berharganya, di Karibia garam ditimbun di bawah tanah rumah-rumah pedagang

Terminologi salary (gaji) berasal dari salt atau dalam artian “jatah garam” karena garam diangap sebagai barang berharga dan bisa berfungsi sebagi alat tukar. Adalagi Kata “cabul” (salacious) juga berasal dari bahasa Latin, di mana bangsa Romawi menganggap orang yang sedang jatuh cinta dalam keadaan asin.

Para petani Anglo-Saxon memasukkan garam ke dalam lubang bajak-bajak mereka lalu, sambil membajak, mereka berteriak memanggil nama dewi bumi dengan harapan hasil tanamannya baik dan banyak.

Arti penting garam bagi manusia menjadikannya komoditas penting sejak berabad-abad silam. “Garam menjadi salah satu komoditas internasional pertama perdagangan dunia,” tulis Mark Kurlansky. Berbagai penguasa hampir tak pernah absen menerapkan pajak garam. Nilai garam seringkali jauh lebih tinggi dari semestinya. Garam disejajarkan dengan benda-benda berharga lainnya.

Bangsa China mungkin yang pertama dan terbanyak berhubungan dengan garam. Catatan paling awal produksi garam di China sudah ada dari sekitar 800 SM. Di dalamnya termuat informasi mengenai produksi dan perdagangan garam laut di sana satu milenium sebelumnya, masa Dinasti Xia. Digambarkan, orang-orang memproduksi garam dengan memasukkan air laut ke dalam bejana tanah liat. Air itu lalu didihkan sampai susut dan hanya menyisakan kristal-kristal garam teknik ini lalu diikuti orang-orang di berbagai belahan dunia hingga dua milenium sesudahnya.

Orang-orang China pula yang mensuplai garam ke kepulauan Nusantara pada masa prakolonial. Garam masyarakat Nusantara kala itu disuplai dari Kocin, China, pantai utara Jawa, Pulau Luzon, Koromandel, dan Siam.

Orang Eropa punya peran besar bagi pergaraman di Nusantara. Sejak VOC, pajak tak langsung atas garam diberlakukan dan mereka memperluas tambak garam pada abad ke-19. Raffles pada 1813 memonopoli garam di seluruh wilayah kekuasaannya.

Oleh pemerintah Hindia Belanda, “pada tahun 1870 akhirnya pengusahaan garam dibatasi dengan sewenang-wenang pada Pulau Madura saja,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia. Tujuannya, mempermudah pengawasan. “Garam adalah salah satu komoditas paling dicari dalam sejarah manusia,” tulis Mark Kurlansky.

“Anda bisa tetap hidup tanpa emas, tapi tidak tanpa garam,” tulis Felipe Fernandez Armesto dalam 1492: The Year the World Began.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here