Kebutuhan Garam Terus Meningkat, Produksi Dalam Negeri Jalan Di Tempat

Kebutuhan Garam Terus Meningkat, Produksi Dalam Negeri Jalan Di Tempat

Penggunaan garam terus berevolusi. Dari sekadar untuk me- nambah rasa pada makanan, hingga menjadi bahan baku utama aneka produk industri. Garam tidak lagi sekadar kristal putih di meja makan. Di tungku-tungku peleburan berbagai pabrik, garam dipakai untuk proses produksi. 

Di Indonesia, 80 persen garam digunakan untuk bahan baku industri. Porsinya selalu meningkat sekitar 5%-7% tiap tahun. Sayangnya, kenaikan penggunaan garam di Indonesia belum diikuti oleh perubahan proses produksi.  

Peningkatan kebutuhan garam berasal dari kegiatan industri manufaktur yang terus tumbuh. Disamping ekspansi kapasitas industri pengguna yang ada, juga terdapat penambahan industri baru yang membutuhkan garam seperti industri soda ash.

Sumber : Neraca Garam Diolah BPS

Tahun ini kebutuhan garam nasional mencapai 4,5 juta ton, naik dibandingkan tahun lalu sekitar 4,2 juta ton. Sementara produksi dalam negeri diperkirakan sebanyak 2,1 jutaan. Artinya masih terdapat kesenjangan antara jumlah produksi dengan kebutuhan garam berkisar di 2,3 juta ton. Kekurangan ini akan dipenuhi melalui impor. 

Prediksi produksi garam dihitung berdasarkan korelasi (linear & non linear) data runtun waktu antara rata-rata curah hujan sentra garam saat kemarau dengan produksi garam periode sebelumnya. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut petambak garam kemungkinan dapat mempersiapkan lahannya pada bulan Mei-Juni 2020 ketika curah hujan mulai menurun. 

Produksi Jalan di Tempat

Lantas, bagaimana jika kemarau tak kunjung datang? Fakta inilah yang harus dihadapi para petambak sejak dulu, khususnya yang berada di pesisir utara Jawa. 

Mereka masih mengandalkan panas matahari untuk menguapkan air laut, lalu mengumpulkan kristal garam hasil penguapan. Jika terjadi cuaca buruk proses produksi akan terhenti. Akibatnya, tidak ada garam yang dihasilkan, seperti pada tahun 2010 dan 2016. Kala itu produksi garam nasional Hanya 160 ribu ton. 

Wacana pemerintah menjadikan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai sentra indutsri garam juga tak menunjukkan perkembangan. Padahal, NTT memiliki curah hujan yang rendah dengan tingkat evaporasi yang cukup tinggi, sangat potensial untuk industri garam.

Sayang, banyak persoalan yang dihadapi para investor garam di sana. Kendala terbesar yang dialami adalah pembebasan lahan yang terhambat dan perizinan.

PT Cheetham Salt di Nagegeo dan PT. Indi Daya Kencana (IDK) di Malaka NTT, tahu persis bagaimana sulitnya membuka lahan garam. Bahkan, mereka harus berhadapan dengan NGO Lingkungan karena dianggap merusak hutan mangrove. 

Industrialisasi Garam

Di tengah situasi ini, pemerintah masih punya ambisi kuat untuk swasembada garam. Tentu, ambisi ini butuh kerja keras dan fokus agar terwujud. Swasembada garam dimungkinkan dengan beberapa syarat. Produksi massal dengan memanfaatkan teknologi mutakhir menjadi salah satu kunci. 

Industrialisasi garam harus didorong. Penggunaan teknologi tidak bisa dihindari. Penggunaan teknologi dalam skala produksi besar tidak hanya dapat menurunkan biaya produksi karena efisiensi. Tetapi, penggunaan teknologi juga akan meningkatkan mutu garam yang diperoleh. 

Di sisi lain, penggunaan teknologi akan membuka peluang produksi samping atau produk turunan atas pengolahan garam. Dengan demikian nilai keekonomian akan meningkat.

Pemerintah dan pemangku kepentingan harus fokus mengurai persoalan yang dihadapi para investor garam. Memastikan ketersediaan lahan serta memutus perizinan yang berbelit. Sehingga, pembangunan industri garam dapat direalisasikan dengan cepat. 

Penulis : Susetyo Raharjo (Direktur Eksekutif FDEP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here