Kemenko Marves Dorong Perbaikan Kinerja BUMN Garam

Kualitas Garam

Belakangan ini kinerja BUMN garam menjadi sorotan masyarakat. PT Garam dianggap gagal melakukan stabilitas harga, serta meningkatkan taraf hidup para petambak garam. Saat harga garam anjlok, PT Garam justru berebut pasar konsumsi dengan garam rakyat. Persaingan ini terjadi karena garam yang dihasilkan tak jauh beda kualitasnya. Padahal BUMN ini sudah membuat garam sejak masih bernama Jawatan Regie Garam di zaman Hindia Belanda. 

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves, Safri Burhanuddin, secara terang-terangan meminta PT Garam melakukan perbaikan teknologi dan manajemen pengelolaan. Kata dia, ada dua permasalahan yang ditemukan saat ini, yaitu kuantitas atau jumlah produksi minim belum bisa mencukupi peningkatan kebutuhan industri yang memerlukan garam sebagai bahan baku. Dari sisi kualitas, garam yang dihasilkan saat ini oleh kalangan industri penggunaan garam, juga dianggap belum dapat memenuhi standar kualitas.

Oleh karena itu ia meminta PT Garam agar meningkatkan produktivitasnya baik dari sisi kualitas, maupun kuantitas produksi garam untuk memenuhi kebutuhan industri.

“Tentunya harus berbeda dengan metode yang diterapkan oleh petambak garam yang ada saat ini yang masih bersifat konvensional, baik garam untuk pemenuhan keperluan industri yang saat ini terus meningkat, dan berkembang serta makin beragam kebutuhannya, maupun juga untuk konsumsi,” ujarnya beberapa waktu lalu. 

Ia juga mengimbau PT Garam selaku BUMN terdepan di sektor pergaraman nasional untuk lebih modern dan profesional.

“Peningkatan produksi garam industri, sasarannya adalah untuk menunjang rencana pemerintah di sektor industri kimia dasar, industri aneka pangan, farmasi, dan perminyakan yang terus tumbuh dan makin berkembang dan bertujuan untuk mendapatkan, ataupun meningkatkan nilai tambah serta menciptakan produk industri yang berorientasi ekspor,” tambah Asisten Deputi Hilirisasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves, Amalyos.

Target Swasembada Garam

Seperti diketahui, kualitas garam dalam negeri belum bisa memenuhi standard kebutuhan industri. Standard itu bisa dilihat di Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 125/M-DAG/Per/12/2015 tentang Ketentuan Impor Garam yang disahkan pada 29 Desember 2015. Dalam pasal (1) ayat (2) disebut Garam industri adalah garam yang dipergunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong untuk kebutuhan industri dengan kadar NaCl paling sedikit 97 persen dihitung dari basis kering.

Banyak produksi garam dalam negeri mengandung NaCl di bawah 97 persen. Cara produksi yang nyaris tanpa teknologi menjadi penyebab utama. 

Di tengah situasi seperti itu, Indonesia punya ambisi kuat untuk swasembada garam. Ambisi itu butuh kerja keras dan fokus agar terwujud. Swasembada garam dimungkinkan dengan beberapa syarat. Produksi massal dengan penggunaan teknologi menjadi salah satu kuncinya. 

Industrialisasi garam harus didorong. Penggunaan teknologi tidak bisa dihindari. Penggunaan teknologi pada skala produksi yang besar bukan hanya dapat menurunkan biaya produksi karena efisiensi. Penggunaan teknologi juga akan meningkatkan mutu garam yang diperoleh. Di sisi lain, penggunaan teknologi akan membuka peluang produksi samping atau turunan dari pengolahan garam. Dengan demikian nilai keekonomian akan meningkat.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah fakta konsumen terbesar garam dalam negeri adalah sektor industri. Sementara sampai sekarang, produksi garam dalam negeri masih belum bisa memenuhi spesifikasi kebutuhan garam industri. Dengan fakta itu, fokus pemerintah dan pemangku kepentingan selayaknya bukan meminta industri menyerap garam dalam negeri. Fokus pemerintah seharusnya mendorong peningkatan kualitas, kuantitas, dan keberlangsungan produksi garam dalam negeri agar sesuai dengan kebutuhan industri. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here