Beranda Berita KKP Dorong Keanekaragaman Produk Garam

KKP Dorong Keanekaragaman Produk Garam

petambak garam

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong adanya diversifikasi atau keanekaragaman produk garam guna meningkatkan nilai tambah. Diversifikasi ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja, menaikan pendapatan dan kesejahteraan petambak, serta mewujudkan kemandirian garam nasional. 

Terlebih, produksi garam rakyat sebagian besar masih berupa garam krosok dengan kandungan NaCl 88-92,5%. Biasanya, garam tersebut digunakan untuk garam konsumsi atau pengawet produk UKM perikanan seperti ikan asin dan pindang. Sedangkan standar garam untuk kebutuhan industri harus memiliki kandungan NaCL di atas 96%. Sehingga butuh diversifikasi produk garam rakyat menjadi produk yang bernilai tinggi.

Direktur Jenderal PDSPKP, Nilanto Perbowo menuturkan bahwa sejumlah penelitian menunjukkan bahwa garam krosok dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi karena mengandung berbagai kadar mineral yang berperan penting bagi kesehatan tubuh.

Sebagai contoh, kandungan mineral magnesium memiliki banyak manfaat diantaranya melembutkan dan menghaluskan kulit.

“Zat pengikat oksigen dan hemoglobin di dalam darah yang dapat memberikan sensasi relaksasi serta mengurangi stress saat berendam dengan larutan garam,” terang Nilanto.

Nilanto menyebut salah satu contoh pengembangan produk garam lokal ialah diolah menjadi produk kesehatan dan kecantikan seperti yang dilakukan pelaku usaha asal Cirebon, Septi Ariyani. Garam buatannya dinamai  “Rama Shinta Rumah Garam Cirebon” dengan kapasitas produksi rata-rata 10 ton per bulan. 

“Diversifikasi produk ini dapat menjadi alternatif ceruk pasar baru bagi garam lokal, di luar pasar garam industri,” terang Nilanto.

Senada, Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi KKP, Budi Sulistiyo, mengungkapkan potensi lain dari diversifikasi produk turunan garam yang bisa dikembangkan. Potensi tersebut di antaranya dengan memanfaatkan limbah garam atau bittern yang diolah menghasilkan magnesium. Bahkan bisa memadukan satu rangkaian produksi tambak garam dengan artemia.

“Sehingga bisa menjadi salah satu solusi kebutuhan pakan pada perikanan budidaya,” jelas Budi.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here