Beranda Kolom Kualitas Garam yang Rendah, Sebabkan Impor Garam di Indonesia

Kualitas Garam yang Rendah, Sebabkan Impor Garam di Indonesia

Kualitas Garam yang Rendah, Sebabkan Impor Garam di Indonesia
Oleh : Syahr Banu

Seiring dengan besarnya kebutuhan garam di Indonesia dan perkembangan bahan baku industri yang semakin meningkat, membuat hasil produksi garam semakin meningkat dari  tahun ke tahun. Akan tetapi, disamping adanya peningkatan jumlah produksi garam tersebut, impor garam masih tetap berlaku di Indonesia. Hal tersebut menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi para petambak garam.

Menurut Kepala Bidang Pengelolaan dan Pembudidayaan Ikan Dinas Perikanan Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Mohammad Istamah, jumlah produksi garam pada tahun 2018 sebanyak 127 ribu ton lebih. Jumlah tersebut lebih besar dari tahun sebelumnya sebanyak 3 ribu ton. Peningkatan ini disebabkan oleh cuaca yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Maka dari itu, para petambak garam di Kabupaten Pamekasan meminta pemerintah untuk mempertimbangkan kembali rencana impor garam karena masih banyaknya hasil produksi garam mereka yang belum terdistribusi dengan baik. Dengan begitu, mereka merasa rugi.[1] Selain itu, sebagian besar dari para petambak garam menjadikan hasil produksi garam sebagai satu-satunya alat untuk bertahan hidup meskipun membutuhkan waktu hingga satu tahun.

Meski demikian, impor garam semakin menambah. Hal tersebut tentu menjadi masalah bagi para petambak garam. Pemerintah memberikan kuota yang cukup besar untuk impor garam. Berdasarkan data dari Kementrian Kelautan dan Perikanan, impor garam pada tahun 2018 berjumlah 2.100.000 ton. Sedangkan, kebutuhan garam berkisar 3.900.000 ton. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa produksi garam di Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan garam dalam skala nasional.[2]

Selain itu, tantangan para petambak garam bukan hanya pada jumlah produksi garam. Melainkan, kualitas garam yang menjadi syarat utama. Hal tersebut sudah diatur dalam Pasal 1 Ayat 2 dan Ayat 3 peraturan Menteri Perindustrian Nomor 125/M-DAG/PER/12/2015 Tentang Ketentuan Impor Garam:

  1. Garam Industri adalah garam yang dipergunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong untuk kebutuhan industri dengan kadar Nacl paling sedikit 97% dihitung dari basis kering, dengan pos Tarif/HS ex.2501.00.90.10.
  2. Garam Konsumsi adalah garam yang  dipergunakan untuk konsumsi dengan kadar Nacl paling sedikit 94,7% sampai dengan kurang dari 97% dihitung dari basis kering, dengan pos Tarif/HS ex.2501.00.90.

Nacl (Natrium Klorida) 97% adalah kadar yang terdapat pada garam yang diperlukan sebagai bahan baku untuk keperluan industri.[3] Dalam industri, garam digunakan untuk berbagai keperluan yaitu sebagai sumur pengeboran, bahan pembantu pembuat uap, bahan pembuatan cairan infus, cairan cuci ginjal serta analisis kimia yang mana semua itu membutuhkan kadar Nacl sesuai standar yaitu 97% keatas. Untuk garam industri, mereka tidak bisa menggunakan garam yang tidak memenuhi standar karena dapat berakibat buruk bagi hasil produksinya.

Garam hasil produksi petambak rakyat belum memenuhi standar minimal 97%, maka dari itu masih terjadinya impor garam. Karena, pemakai garam terbesar terdapat dibidang industri. Penyebab utama garam rakyat tidak sesuai standar adalah belum adanya penggunaan teknologi secara masif dikalangan petambak garam di berbagai daerah dan para petambak masih menggunakan cara yang tradisional dalam proses produksi garamnya.[4]


[1]http://m.republika.co.id/berita/ekonomi/koperasi/pp2thy383/petambak-garam-mina-pemerintah-pertimbangkan-impor-garam diakses pada 29 Mei 2019, pukul 18:34

[2] Rizky Gelar Pangestu, Perlindungan Hukum erhadap Petambak Garam Rakyat Dikatakan dengan Berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pengendalian Impor Untuk Komoditas Perikanan dan Pegaraman sebagai Bahan Baku dan Bahan Penolong Industri, Jurnal Dialog Iurudica Volume 10 Nomor 1, November 2018, hal. 79

[3] Rusiyanto, Penguatan Industri Garam Nasional Melalui Perbaikan Teknologi Budidaya Dan Diversifikasi Produk, Jurnal Sain Dan Teknologi Volume 11 Nomor 2, Desember 2013, hal. 131

[4] Ketut Sumada, Garam Industri Berbahan Baku Garam Krosok Dengan Metode Pencucian Dan Evaporasi, Jurnal Kimia Volume 11 nomor 1, September 2016, hal. 35

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here