“Lahan NTT Tepat” : Solusi Industrialisasi Garam di Indonesia

kualitas garam
Oleh : Indry Permata Hani

Kebutuhan pokok semakin lama semakin meningkat seiring dengan penambahan jumlah penduduk di Indonesia. Jika kebutuhan pokok diisyaratkan sebagai beras, sayur, gandum dan lainnya, tidak terkecuali garam. Selain sebagai kebutuhan utama, garam menjadi sumber gizi bagi manusia. Produksi garam dengan kondisi alam yang tidak konstan dibarengi kebutuhan konsumsi yang semakin meningkat tentu akan menimbulkan polemik baru yaitu “kelangkaan”. Hal ini memicu sejumlah pihak untuk terus bersaing meningkatkan persen produksi barang pokok dengan kualitas barang yang semakin baik.

Dari permasalahan di atas, terdapat berbagai cara yang tepat untuk mengatasi terjadinya kelangkaan. Seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah yaitu mengimpor garam dari negara Australia untuk mencukupi kekurangan garam di Indonesia yang terbilang sebagai solusi instan. Tidak selamanya cara ini tepat dilakukan sebagai solusi mengingat Indonesia merupakan negara maritim. Untuk itu diperlukan industrialisasi garam di tempat yang mendukung produksi garam dengan lebih baik.

Memproduksi garam tidak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk menghasilkan garam perlu beberapa faktor seperti iklim cuaca, kualitas air laut, lokasi yang strategis, dan tenaga kerja. Indonesia memiliki banyak air laut tidak menjamin keberlangsungan produksi garam. Faktor cuaca adalah penyebab utama produksi garam nasional begitu minim selama setahun terakhir, menurut Sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia, Cucu Sutara dalam bbc.com ( 02/08/2017 )[1].

Hal tersebut menjadi acuan dalam menentukan daerah mana yang tepat untuk mendirikan industrialisasi garam.

Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memenuhi kriteria sebagai daerah industrialisasi garam dengan beberapa kriteria : 1) memiliki ketersediaan bahan baku garam (air laut) yang sangat cukup, bersih, tidak tercemar dan bebas dari air tawar 2) memiliki iklim kemarau yang cukup panjang (tidak mengalami gangguan hujan berturut-turut selama 4 – 5 bulan) 3) memiliki dataran rendah yang cukup luas dengan permeabilitas (kebocoran) tanah yang rendah 4) memiliki jumlah penduduk yang cukup sebagai sumber tenaga kerja[2].

Untuk mendukung indutrialisasi di suatu daerah, tidak cukup hanya memastikan keadaan yang cocok berdasarkan kriteria tersebut. Faktor lain seperti ideologi memiliki peran penting. Masyarakat yang memiliki pandangan bahwa teknologi dapat merubah kehidupan mereka jauh lebih baik cenderung dapat menerima kemajuan teknologi di daerahnya. Selain itu, kepemimpinan dan struktur organisasi yang terbuka terhadap kemajuan teknologi akan mempermudah jalan perkembangan industrialisasi.

Nusa Tenggara Timur (NTT) selain memenuhi kriteria sebagai daerah sentral produksi garam berdasarkan acuan Badan meteorologi dan Geofisika (BMG) serta Badan Riset Kelautan dan Perikanan, diharapkan dapat menerima industrialisasi garam sebagai solusi tepat pemenuhan kebutuhan garam di Indonesia. Peran pemerintah sebagai pemasok dana diperlukan optimalisasi dan transparansi agar program tercapai dengan maksimal dan aman.

[2] Badan Riset Kelautan dan Perikanan & Badan Meteorologi dan Geofisika, “Informasi Cuaca dan Iklim Untuk Tambak Garam“ dalam Prototip, Jakarta, 2005, hlm. 8.

Ketika memikirkan suatu industri, maka kita tidak lepas dari limbah industri itu sendiri. Membangun sebuah industri pasti membutuhkan pengolahan limbah yang efektif demi kenyamanan penduduk sekitar. Maka peran masyarakat terkait sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan juga berdampak besar bagi industrialisasi garam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here