Memasuki Panen Raya, Harga Garam Masih Rendah?

kualitas garam

Memasuki akhir Bulan Agustus, sejumlah sentra pengasil garam di tanah air mulai memasuki masa panen. Sayangnya hingga saat ini harga garam tidak menguntungkan bagi para petambak. Harganya dikisaran Rp 225 sampai Rp 300 per kilogram di tingkat petani. 

Salah satu petani garam di Jepara mengatakan, panen raya memang sudah terjadi dua bulan dimulai awal Juli hingga Agustus, dan kemungkinan akan berakhir di September. Namun, kondisi harga garam semakin menurun. Awal bulan Juli angkanya masih Rp 270 per kilogram, memasuki Agustus ini justru turun menajdi Rp 225- Rp 250 per kilogram. 

Kondisi ini juga dialami perusahaan plat merah PT Garam berkantor pusat di Sumenep. Hingga sekarang, 100 ribu ton garam hasil produksi tahun lalu belum terserap, karena harga yang murah.

Corporate Communication PT Garam (Persero), Miftahul Arifin, mengatakan stok garam melimpah karena harga murah. Ditambah lagi sekarang sudah memasuki musim produksi.

Idealnya, antara produksi dan garam yang terserap berjalan stabil. Dengan demikian, tidak terjadi penimbunan garam yang berlebihan. Sekalipun, hasil produksi tahun terdahulu juga bisa dijual kapan saja.

Pengaruh Cuaca

Menurut Miftahul, kondisi cuaca sangat memengaruhi hasil produksi garam. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Kualitas garam semakin bagus ketika cuaca panas. Sementara ketika turun hujan, kualitas garam terancam dan bisa mengakibatkan gagal panen.

”Sekalipun sekarang musim kemarau basah, kami tetap optimistis bisa memproduksi garam berkualitas,” jelasnya. 

Seperti diketahui, industri pengguna membutuhkan garam dengan spesifikasi tertentu sebagai bahan baku produksi. Misalnya industri makanan dan minuman, mensyaratkan NaCl minimal 97 persen dan rendah pengotor. Agar dapat diserap industri, produksi garam dalam negeri harus memenuhi syarat tersebut. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here