Beranda Kolom Membuka Lahan Baru Demi Terwujudnya Swasembada Garam di Indonesia

Membuka Lahan Baru Demi Terwujudnya Swasembada Garam di Indonesia

Dibalik peluang yang dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan garam nasional terdapat kendala yang menjadi tantangan besar yaitu menyangkut permasalahan pengurusan perizinan lahan.

Swasembada Garam
Oleh : Nur Affif Dwi Ariandra

Garam menjadi suatu komponen yang sangat penting bagi kehidupan sehari-hari manusia salah satu manfaatnya ialah condiment bumbu pelengkap dalam sebuah masakan. Namun bukan hanya sebagai bahan pelengkap saja dalam masakan akan tetapi apabila dikonsumsi akan menimbulkan efek nyang positif bagi tubuh. Hal itu terbukti berdasarkan suatu penelitian yang diteliti oleh Monica Reinagel yaitu apabila kita mengkonsumsi garam maka efeknya dapat membakar kalori dalam tubuh walaupun jika dikonsumsi secara berlebihan akan memicu darah tinggi[1].

Selain itu manfaat pada komoditas garam pada lingkup lebih luas yaitu dapat mendorong kebutuhan dalam industri-industri. Tak dapat dipungkiri kebutuhan pasokan garam industri pada tahun 2018 bisa mencapai angka 3,7 juta ton[2]. Kebutuhan pasokan garam bagi industri diperuntukkan bagi industri kosmetik, tekstil, pengasinan ikan, dan lain-lain. Jenis garam bagi kebutuhan industri ialah garam non-iodisasi yang kadarnya dapat mencapai minimal NaCI 97 persen, garam ini dipergunakan untuk bahan baku bagi industri[3]. Namun garam jenis ini masih belum dapat kita produksi sendiri sehingga memaksa produk ini diimpor agar memenuhi kebutuhan industri.

Indonesia yang dijuluki sebagai negara kepulauan dikarenakan memiliki garis pantai 81.000 km, namun mirisnya komoditas garam yang seharusnya dapat mencukupi kebutuhan sendiri tidak mampu dimanfaatkan secara cermat. Hal itu terbukti dari pasokan garam yang diimpor oleh negara Australia sebesar 80 persen, negara India 15 persen, dan negara China sebesar 3 persen[4].

Oleh karena itu ada berbagai cara yang dapat ditempuh pemerintah untuk meningkatkan produksi komoditas garam. Seperti menggencarkan intensifikasi yaitu menaikkan produktivitas melalui lahan yang sudah ada, serta cara kedua yang dapat ditempuh ialah ekstensifikasi. Dengan menggunakan cara ini diyakini dapat menjadi salah satu langkah untuk lebih mengagresifikan pasokan garam yaitu dengan membuka lahan baru pada kawasan-kawasan berpotensial. Dengan kondisi geografis Indonesia yang mumpuni maka bukan tidak mungkin langkah membuka lahan baru menjadi pilihan yang tepat serta jitu.

Seperti dipaparkan pada penelitian yang berjudul evaluasi kesesuaian tambak garam ditinjau dari aspek fisik di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati ditulis oleh Renaldi dkk[5] bahwa tambak garam dapat dimaksimalkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi besar agar dimanfaatkan secara optimal melalui berbagai cara. Salah satunya mengenai peningkatan produksi garam melalui evaluasi tingkat lahan kesesuaian tambak garam.

Upaya-upaya pembukaan lahan baru bagi komoditas garam nampaknya sudah mulai dimasifkan oleh pemerintah. Hal itu terbukti dari adanya target yang dicanangkan pemerintah mengenai kebutuhan garam nasional akan terpenuhi pada tahun 2020. Lokasi-lokasi yang menjadi sasaran objek ekstensifikasi diantaranya pada daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Sulawesi Selatan (Sulsel).

Ada beberapa kriteria lokasi yang cocok sebagai objek ekstensifikasi tambak garam seperti tingkat curah hujan yang rendah serta waktu kemarau yang panjang. Diperkuat pemaparan oleh Asisten Deputi Sumber Daya Mineral Energi dan Non Konvensional, Kemenko Kemaritiman, Amalyos Chan bahwa pada beberapa daerah memiliki iklim curah hujan yang rendah serta waktu kemarau yang panjang, ditambah lagi angin yang mendukung proses pencapaian garam yang optimal. Contohnya di NTT musim kemarau selama 8 bulan selain itu ada banyak investor yang terindentifikasi sekitar 13 ribu[6].

Akan tetapi dibalik peluang yang dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan garam nasional terdapat kendala yang menjadi tantangan besar yaitu menyangkut permasalahan pengurusan perizinan lahan.

Salah satu alasan yang mendasarinya ialah sistematis yang cukup rumit dalam tahapannya, contohnya penyelesaian permasalahannya harus ada keterlibatan dari beberapa pihak. Beberapa pihak yang terlibat dalam pengurusan lahan diantaranya Badan Pertanahan Nasional (BPN) serta masyarakat yang bersangkutan. Contoh permasalahan yang terjadi pada teluk NTT Kupang, terdapat insiden sengketa lahan antara pihak masyarakat setempat dengan pihak investor. Kondisi ini ditengarai karena persoalan pihak masayarakat mengklaim bahwa status tanah yang dimilikinya telah lama ditempati[7]. Oleh karena itu pemerintah selaku pengambil kebijakan dan pihak yang menyelesaikan berbagai persoalan-persoalan dalam negeri sudah seharusnya menjadi kewajiban yang harus diselesaikan. Baik dari sisi investor yang menginvestasikan modalnya untuk lahan tambak garam yang akan digarap maupun masyarakat yang bersangkutan dalam polemik sengketa lahan.


[1] Azizah, Nora & Rezkisari, Indira. 2018. Pentingnya Garam Bagi Tubuh. https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/18/02/09/p3vp9m328-pentingnya-garam-bagi-tubuh, Diakses 27 Mei 2019

[2] Kontan. 2018. Kebutuhan Garam Industri Meningkat 76,19% Tahun ini. https://industri.kontan.co.id/news/kebutuhan-garam-industri-meningkat-7619-tahun-ini, Diakses 27 Mei 2019

[3] Izzaty & Permana, Hendra Sony. 2011.  Kebijakan Pengembangan Produksi Garam Nasional. Volume 2, Nomor 2. Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik

[4] Lintang. 2010. Enam Fakta Kondisi Garam Nasional. http://lintang2010. wordpress.com/2011/05/27/enam-fakta-kondisi-garam-nasional/. Diakses pada 28 Mei 2019

[5] Tambunan, Bahri Renaldi, Hariyadi, & Santoso, Adi. 2012. Evaluasi Keseuaian Tambak Garam Ditinjau Dari Aspek Fisik di Kecamatan Juwana  Kabupaten Pati. Volume 1, Nomor 2, Hal 181-187. Semarang: Journal of Marine Research

[6] Febriyanti, Edward. 2017. Perluas Ladang Garam, Pemerintah Cari Lahan di NTT, NTB, dan Sulsel. https://finance.detik.com/industri/d-3719291/perluas-ladang-garam-pemerintah-cari-lahan-di-ntt-ntb-dan-sulsel, diakses pada 28 Mei 2019

[7] Liputan 6.2018. Sengketa Lahan masih Jadi Kendala Kembangkan Produksi Garam. https://www.liputan6.com/bisnis/read/3799246/sengketa-lahan-masih-jadi-kendala-kembangkan-produksi-garamhttps://www.liputan6.com/bisnis/read/3799246/sengketa-lahan-masih-jadi-kendala-kembangkan-produksi-garam, diakses pada 29 Mei 2019

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here