Mengintip Potret “Impor Garam” di Indonesia dari Lensa Industri

0
24
Oleh : Taofik Al Nur 

Dewasa ini, fenomena impor garam menjadi santapan rutin tanah air. Potret miris komoditi ini pun menjadi momok yang banyak diperbincangkan masyarakat Indonesia dan menjadi kekhawatiran tersendiri, khususnya bagi para petani garam. Berdasarkan informasi dari Badan Pusat Statistik, impor garam Indonesia pada tahun 2014 mencapai 2,3 juta ton dari total kebutuhan nasional yang mencapai 3,53 juta ton setiap tahunnya (BPS, 2016). Ironis, Indonesia yang notabene merupakan negara bahari dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, sejatinya dapat berdaulat atas komoditi garam. Namun faktanya, Indonesia menjadi sang “pelaku” impor.

Jika diselidiki dengan seksama, impor garam bukanlah semata-mata untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi, melainkan untuk garam industri. Hal ini dapat dilihat pada kebutuhan garam nasional di tahun 2015 yang menunjukan bahwa sebesar 647,6 ribu ton (17,3%) merupakan kebutuhan garam konsumsi dan 3,1 juta ton (82,7%) merupakan garam industri (BPS, 2015). Kementerian Perindustrian (2016) pun mempertegas bahwa pada tahun 2014 Indonesia mengimpor sebanyak 2,16 juta ton guna memenuhi kebutuhan garam nasional, khususnya garam industri.

Terkait dengan peran pentingnya garam sebagai komoditi konsumsi rumah tangga dan industri, tidak dapat dipungkiri jika jumlah penduduk dan industri di Indonesia mengalami peningkatan. Akibatnya, kebutuhan garam nasional dari tahun ke tahun meningkat pula. Badan Pusat Statistik (2015)

menyatakan bahwa impor garam pada tahun 2007 mencapai 2,7 juta ton dan meningkat pada tahun 2015 menjadi 3,75 juta ton. Namun sayang, kebutuhan garam nasional yang semakin besar tidak diimbangi dengan jumlah produksi garam lokal. Buktinya, menurut Wirawan (2017), produksi garam lokal pada tahun 2016 hanya mencapai 144 ribu ton dari kebutuhan 4,1 juta ton. Ketimpangan kuantitas garam inilah yang menjadi penyebab dasar terjadinya “impor garam”.

Selain perihal kuantitas, penyebab terjadinya impor garam adalah terkait kualitas. Dalam hal ini, garam lokal hanya mampu memenuhi kebutuhan garam konsumsi dengan kualitas atau kandungan NaCl sebesar 80-95%. Sementara garam industri mensyaratkan kandungan kadar NaCl yang lebih tinggi, yaitu minimal 97%. Misalnya untuk industri farmasi, membutuhkan garam dengan kandungan NaCl minimal 99,8% (Gatra, 2015). Tidak hanya itu, menurut Kementerian Perindustrian (2014), ada persyaratan lain selain kandungan NaCl, yaitu batas maksimal kandungan logam berat (kalsium dan magnesium).

Permasalahan kuantitas dan kualitas garam lokal di Indonesia ternyata dipicu oleh beberapa akar masalah yang kompleks. Pertama, karena faktor iklim. Usaha garam di Indonesia merupakan usaha musiman yang bergantung pada iklim. Musim kemarau berlangsung relatif cukup pendek, yaitu sekitar 4-6 bulan. Di luar kemarau, yaitu musim hujan, petani garam sebagian besar tidak melakukan produksi garam. Melihat kondisi tersebut, produktivitas garam rakyat tentu dinilai belum optimal dan relatif rendah (Puska PDN, 2011).

Kedua adalah faktor keterbatasan teknologi. Usaha pergaraman Indonesia masih menggunakan alat tradisional,

yaitu pengeruk kayu dan kincir angin. Sistem teknologi yang digunakan mayoritas masih mengandalkan penguapan air laut yang menggunakan sinar matahari. Menurut Sutianto (2015), petani garam tidak melakukan beberapa tahapan pengolahan garam, terutama tahapan refinery guna menaikkan kualitas garam. Penggunaan teknik pengolahan yang relatif sederhana inilah yang mengakibatkan kuantitas dan kualitas garam di Indonesia tergolong rendah.

Ketiga adalah faktor harga. Harga garam impor lebih murah dibandingkan garam lokal. Menurut Wirawan (2017), ditinjau dari lensa industri, lebih baik melakukan impor garam karena rantai distribusi pasokannya dianggap lebih ringkas. Jika industri membeli produk garam lokal, ada tujuh mata rantai yang harus dilalui dan di setiap mata rantai memakan biaya. Akibatnya, ketika sampai ke level konsumen menjadi lebih mahal. Tentu hal ini menjadi batu sandungan bagi pelaku industri untuk tidak memilih garam lokal, karena pada prinsipnya salah satu tujuan industri adalah mencari keuntungan/ laba.

Berdasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa potret impor garam di Indonesia disebabkan oleh kuantitas dan kualitas garam lokal yang belum mampu memenuhi kebutuhan garam nasional, khususnya garam industri. Faktor pemicunya meliputi iklim yang kurang mendukung, keterbatasan teknologi dan harga garam lokal yang cukup mahal. Oleh sebab itu, fenomena ini perlu dibingkai dengan kebijakan pemerintah yang mendukung usaha pergaraman petani, seperti penyediaan teknologi produksi modern dan kebijakan rantai distribusi garam. Dengan harapan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas garam lokal sehingga Indonesia perlahan terhindar dari fenomena “impor garam”.

Referensi :

Badan Pusat Statistik (BPS). (2015). Distribusi Perdagangan Komoditi Garam Indonesia. Diunduh tanggal 25 Mei 2019 dari www.bps.go.id.

Badan Pusat Statistik (BPS). (2016). Data Ekspor dan Impor Garam Indonesia. Jakarta. Diunduh tanggal tanggal 25 Mei 2019 dari www.bps.go.id.

Gatra. (2015, 20 April). Hingga Akhir 2015, Kebutuhan Garam Nasional 2,6 Juta Ton. Diunduh tanggal 27 Mei 2019 dari http://www.gatra.com/ekonomi/industri/143400-hingga akhir-2015,-kebutuhan-garam-nasional-2,6-juta-ton.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin). (2016). Garam Industri Masih Bergantung Impor. Diunduh tanggal 26 Mei 2019 dari http://kemenperin.go.id/artikel /11298/Garam- Industri-Masih- Bergantung-Impor.

Pusat Kebijakan Perdagangan dalam Negeri (Puska PDN). (2011). Analisis Kebijakan Harga Garam Nasional. Jakarta: Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan.

Sutianto., Feby Dwi. (2015, 22 September). Kenapa Sih Indonesia Masih Impor Garam?. Detik Finance. Diunduh pada 26 Mei 2019 dari http://finance.detik.com/ read/2015/09/22/081257/3025068/4/kenapa-sih-indonesia- masih-impor-garam.

Wirawan, Jerome. (2017, 1 Agustus). Indonesia Negara Maritim, Tapi Mengapa Harus Impor Garam?. Diunduh tanggal 25 Mei 2019 dari http://www.google.com/amp/s/www.bbc.com/ indonesia/amp/indonesia-40792179.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here