Nasib Industri Pengguna Garam di Tengah Pandemi

impor garam

Industri pengguna garam yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 ialah makanan dan minuman (mamin). 

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), sebanyak 71,4 persen pelaku industri mamin penjualannya menurun sekitar 20-40 persen. Selain itu, lebih dari 50 persen mereka tak yakin dapat membayarkan upah dan THR karyawan secara utuh.

Kondisi ini diperparah dengan sulitnya mendapat pasokan bahan baku dan bahan penolong, yang sebagian besar (diatas 70-80%) masih tergantung kepada impor. Seperti gula, garam industri dan lain lain. 

Gapmmi menilai perizinan pemerintah masih sangat lambat sehingga tidak bisa mengimbangi perubahan mekanisme pemesanan bahan baku negara dunia yang meminta mereka melakukan penguncian pesanan seperti booking.

“Pelaku usaha tidak mau booking order karena khawatir izin impor tidak terbit. Jadinya sering didahului perusahaan dari negara lain. Praktis bahan baku industri mkanan menjadi sulit diperoleh,” kata Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman dalam rapat dengar pendapat Komisi VI DPR RI, minggu lalu. 

Pemerintah diminta memberi stimulus tambahan agar operasional perusahaan tidak berat saat pandemi Covid-19. Salah satu stimulus yang diharapkan adalah, penghapusan izin impor bahan baku karena prosedurnya yang panjang selama ini dianggap memberatkan.

“Dengan tidak adanya izin rekomendasi, kita tetap perlu (impor). Saya harap semua kementerian mempunyai data dan persepsi sama, sehingga nggak ada hal yang menyulitkan terutama di tengah Covid-19 begini,” ujarnya. 

Relaksasi bea masuk juga dibutuhkan demi menekan kerugian yang dialami perusahaan, karena penurunan nilai rupiah terhadap Dolar Amerika. 

“Kita berharap pemerintah memperhatikan mereka memberikan stimulus yang cukup di mana pada sektor untuk banyak menyerap tenaga kerja sehingga menopang hidup masyarakat,”imbuhnya. 

Seperti diketahui, industri mamin menjadi andalan karena mampu memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, baik itu melalui peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja, maupun capaian nilai ekspor. Di tahun 2019, industri mamin tercatat menyerap tenaga kerja lebih dari 1,2 juta, dan nilai ekspor mencapai USD27,28 miliar. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here