NTT Diproyeksikan Jadi Lumbung Garam Nasional

0
45

Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) diproyeksikan akan menjadi salah satu lumbung baru produksi garam nasional. Beberapa daerah di NTT seperti di Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Malaka dan Kabupaten Kupang dinilai potensial untuk mengembangkan industri garam, karena memiliki curah hujan yang sangat rendah, bahkan musim kemarau terjadi hampir sepanjang tahun.

Gubernur Nusa Tenggara Timur ( NTT) Viktor Laiskodat menyebut panas matahari di wilayahnya menjadi berkat luar biasa untuk produksi garam. Panas matahari membuat garam yang diproduksi di NTT memiliki kualitas yang baik.

“Kalau sinar mataharinya cukup maka kualitas garam yang dihasilkan akan sangat bagus. Sebagai gubernur, saya akan sangat marah, apabila ada masyarakat yang mengeluh karena panas. Panas itu berkat yang luar biasa,” ujar Viktor.

Kehadiran investor garam, kata Viktor, harus didukung demi mengangkat harkat dan martabat masyarakat NTT, dalam pengembangan usaha tambak garam. Proses produksi yang dilakukan perusahaan tidak hanya menjamin penambahan kuantitas tetapi juga kualitas garam.

Di Kabupaten Kupang, ada PT. Timor Livestock Lestari total yang menggarap lahan garam seluas 600 hektar. Rencana tambak tersebut dapat dipanen pada bulan Oktober 2019 mendatang. Sementara, di Kabupaten Malaka terdapat PT. Indi Daya Kencana (IDK) yang sudah mengelola lahan garam seluas ±200 Ha di desa Weoe dan desa Weseben kecamatan Wewiku, desa Motaain kecamatan Malaka  Barat seluas 10 Ha dan desa Rebasa Wemian kecamatan Malaka Barat seluas 32 Ha.

Vektor menargetkan agar NTT bisa menyumbang 1 juta metrik ton garam untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. Keinginan itu diharapkan bisa terpenuhi karena selama ini secara nasional, Indonesia masih mengimpor 3,7 juta metrik ton garam.

Terkendala Lahan

Upaya menjadikan wilayah NTT sebagai pemasok garam nasional bukan tanpa kendala. Pembebasan lahan masih menjadi persoalan yang dihadapi untuk pembangunan pabrik garam. Di Kupang, lahan pabrik garam berdiri di atas tanah ulayat warga sehingga perlu musyawarah yang intensif dengan warga.

Kasus lain di Kabupaten Malaka, NTT. Pembangunan tambak garam di Malaka menuai protes dari aktivis lingkungan hingga berujung laporan ke polisi terkait dugaan pengrusakan magrove oleh PT.IDK di kabupaten Malaka.

“Pembangunan baru bisa dilakukan kalau masalah lahan sudah diselesaikan supaya tidak ada gesekan dengan warga,” kata Direktur JenderallndUstri Kimia Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Harjanto.

Pemerintah Daerah diharapkan dapat ikut mengatasi masalah ketersediaan lahan untuk pengembangan garam industri di daerah. Pasalnya, pengembangan garam di Indonesia selama ini terkendala minimnya ketersediaan lahan, seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT). (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here