Pemerintah sebaiknya membenahi permasalahan komoditas garam mulai dari hulu, salah satunya dengan meningkatkan keterampilan produksi para petani garam. Hal ini dimaksudkan agar garam produksi mereka bisa digunakan untuk kebutuhan industri. Selama ini kebutuhan garam industri dipenuhi melalui impor.

Peneliti Center For Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menginginkan kapasitas para petani garam di berbagai daerah dapat benar-benar ditingkatkan agar produk garam yang dihasilkan juga dapat memenuhi kualitas untuk kebutuhan industri.

Galuh mengingatkan bahwa selama ini kebutuhan garam industri dipenuhi melalui impor, yang tidak lepas dari belum mampunya para petani garam lokal untuk memenuhi kebutuhan industri.

Selain itu, ujar dia, harga garam lokal juga relatif lebih mahal dari garam impor dan kualitasnya juga masih berada di bawah garam impor. “Garam industri harus memenuhi ketentuan tertentu yang dibutuhkan industri,” katanya.

Untuk itu, Galuh mengemukakan bahwa berbagai kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kapasitas petani antara lain adalah mengenalkan teknologi bercocok tanam secara teori maupun praktek, pelibatan iptek dan membuka kesempatan kepada para petani untuk belajar langsung ke negara-negara produsen garam besar di dunia.

Ia juga menyebutkan pemerintah juga seharusnya bisa memaksimalkan peran penyuluh pertanian supaya mereka bisa memberikan pendampingan kepada para petani garam

“Seharusnya potensi peningkatan pendapatan petani melalui garam industri bisa segera ditanggapi secepat mungkin. Memperluas lahan tambak garam tidak akan sepenuhnya efektif tanpa adanya peningkatan keterampilan produksi petaninya,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman menyatakan industri makanan dan minuman tengah mengalami kekurangan pasokan garam industri dan stok yang tersedia hanya tersisa kurang dari satu bulan.

Menurutnya, industri makanan dan minuman pada 2019 sudah diberikan slot impor garam industri sebesar 300 ribu ton. Jumlah tersebut belum bisa mencukupi untuk produksi industri makanan dan minuman.

“Total itu ada 30 ribuan ton (tersisa). Itu nggak sampai sebulan, kan bahaya,” ujar Adhi di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Ia mengatakan kebutuhan bahan baku garam untuk industri tersebut mencapai 500 ribu ton pertahun. Bahkan jumlah itu, ujar dia, masih sangat kurang mengingat produksi makanan dan minuman semakin tinggi.

Apabila bahan baku garam tak bisa dipenuhi maka industri makanan dan minuman dalam negeri terancam tak bisa produksi. Sementara produksi garam lokal memiliki kadar air tinggi sehingga tidak bisa digunakan untuk bahan baku industri makanan dan minuman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here