Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Garam Indonesia melalui RUPZA

0
36
Oleh :  Arifah Nur’aini Syamsiana 

Indonesia merupakan negara maritim dengan garis pantai terpanjang ke empat di dunia (Rusiyanto, dkk, 2013). Namun Indonesia masih belum memaksimalkan pengelolaan sumber daya alam. Khususnya adalah garam. Garam menjadi kebutuhan prioritas sebagai sumber pangan dan industri penduduk Indonesia. Semakin bertambahnya penduduk dan pengembangangan industri semakin tinggi kebutuhan garam.

Pada tahun 2017 Indonesia dilanda keresahan karena kelangkaan garam menyebabkan semua harga pangan dan industri menjadi naik. Menurut menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa pasokan garam langka karena produksi garam turun setelah musim hujan yang panjang. Dan menurut Faisol Baidowi (Sekjen APGRI) pada tahun 2016 petani garam gagal panen karena faktor cuaca, saat itu masuk katagori kemarau basah atau lamina. Bahkan gagal panen saat itu mencapai 106 ribu ton dalam skala nasional.

Jalan keluar atas kelangkaan garam disiasati pemerintah untuk sementara waktu adalah dengan melakukan impor garam. Khususnya adalah garam industri karena garam yang diperlukan dalam industri dipersyaratkan memenuhi kualitas garam super dengan kadar NaCl sekitar 97%. Sedangkan NaCl garam lokal masih sekitar 94% dan untuk memenuhi kebutuhan industri harus ditingkatkan menjadi 97%. Sehingga pada tahun 2018, pemerintah menetapkan volume impor garam untuk industri sebesar 3,7 juta ton.

(https://www.garampedia.com/pemerintah-siapkan-roadmap-garam-nasional).

Problem yang sering muncul dalam kritalisasi garam adalah masih adanya pengotor (impurities) sehingga kemurnian garam belum mencapai maksimal. Adanya senyawa MgCl2, MgSO4, CaSO, dan KBr, KCl dalam air laut yang ikut mengkristal pada proses kristalisasi menyebabkan kualitas produk garam rendah (kadar NaCl 75 – 80%) dan cenderung kurang putih dari yang diharapkan (Jumaeri dkk. 2017).

Di sisi lain pemanfaatan sumber daya alam non-hayati, misalnya zeolit alam masih jarang dilakukan. Secara geologi Indonesia berpotensi besar menghasilkan zeolit seperti yang terdapat di Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi dengan sumberdaya 447.490.160 ton (Kusdarto, 2008). Zeolit mempunyai sifat sebagai “molecular-sieves” yang dapat digunakan dalam proses pemurnian bahan, termasuk penghilangan impuritas yang ada dalam produk garam dapur. Peluang pemanfaatan bahan galian zeolit ini sangat terbuka karena baru sedikit yang diproduksi dari cadangan yang ada (Data Produksi dan Konsumsi Zeolit, 2002 “Badan Pusat Statistik” Kajian data Pertambangan “2003’ Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral).

Berdasarkan permasalahan di atas, maka perlu adanya usaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk garam lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan dan industri. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan Rumah Prisma Zeloit Alam.

Rumah Prisma Zeloit Alam

Rumah prisma merupakan teknologi baru dalam memproduksi garam. Petani yang memproduksi garam menggunakan rumah prisma tidak akan bergantung pada cuaca. Pada musim hujan, kebanyakan petani garam tidak memproduksi garam karena sangat mengandalkan sinar matahari dan ketika hujan, maka kristalisasi garam tidak berhasil. Rumah prisma dibuat untuk mengantisipasi petani garam ketika musim hujan.

Description: Hasil gambar untuk zeolit alam

Sebelah kiri merupakan rumah prisma dan sebelah kanan adalah zeloit alam

Rumah prisma dibuat dengan bantuan bambu membentuk rumah prisma dilapisi plastik geothermal pada atapnya dan adanya geomembran pada dasarnya. Plastik geomembran merupakan jenis plastik yang dapat menstabilkan panas sinar matahari sehingga garam dapat lebih berkualitas. Dalam rumah prisma, panas matahari akan tetap terjaga di dalamnya ketika malam hari sehingga dapat mempercepat panen garam.

Dengan menggunakan teknologi ini dapat menghemat waktu untuk memproduksi garam yang biasanya 14 hari menjadi hanya 4 hari. Untuk memproduksi garam dalam waktu 4 hari dibutuhkan lahan sekitar 400 hektar. Sistem teknologi ini yaitu air laut tua dikumpulkan dan ditampung di dalam tandon atau wadah kemudian dialirkan ke dalam rumah prisma yang sudah dilapisi plastik pada bagian atapnya. Sedangkan pada bagian bawahnya dilapisi terpal. Rumah Prisma atau rumah garam ini membutuhkan biaya Rp 4,5 Juta per unitnya. Dengan menggunakan rumah prisma ini maka para petani bisa lebih sering memanen garam tanpa harus takut hujan atau cuaca buruk. Kelebihan lainnya, para petani dapat memanen sebanyak 120-125 ton garam per hektar, tentunya jumlah ini lebih banyak dibandingkan petani konvensional yang hanya mampu memanen garam sebanyak 60-80 ton per hektarnya (http://solusiindustri.com).

Sedangkan zeloit alam merupakan satu komoditas mineral non logam atau mineral industri multi guna karena memiliki sifatsifat fisika dan kimia sebagai penyerap, penukar ion, penyaring molekul dan sebagai katalisator. Mineralmineral yang termasuk dalam grup zeolit pada umumnya dijumpai dalam batuan tufa yang terbentuk dari hasil sedimentasi debu vulkanik yang telah mengalami proses alterasi, proses diagenesis, dan proses hidrotermal. Indonesia berada dalam wilayah rangkaian gunung api mulai dari Sumatera, Jawa, Nusatenggara, sampai Sulawesi. Salah satu produk dari gunungapi berupa tuf yang tersebar luas mengikuti jalur gunung api tersebut dan sebagian atau seluruhnya telah mengalami proses ubahan atau diagenesis menjadi zeolit. Oleh karena itu, secara geologi Indonesia berpotensi besar menghasilkan zeolit seperti yang terdapat di Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi dengan  sumber  daya 447.490.160 ton (Kusdarto, 2008).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Juameri dkk tahun 2017 mengungkapkan bahwa proses rekristalisasi menggunakan zeolit alam sebagai pengikat impuritas dapat digunakan  secara efektif dalam pemurnian garam dapur. Garam hasil kristalisasi mempunyai kadar NaCl tertinggi (98,73%) diperoleh dengan menggunakan zeolit lolos ayakan 10/20 mesh yang teraktivasi HCl 0,1 M.. Artinya ketika dalam memfilter air laut untuk kemudian dialirkan ke dalam rumah prisma tersebut dapat menggunakan zeolit alam sebagai upaya pemurnian garam dapur.

Pembuatan Garam dengan Rumah Prisma Zeloit Alam

Pembuatan yang dilakukan oleh petani garam dengan menggunakan teknik rumah prisma zeloit alam adalah dengan membuat rumah prisma terlebih dahulu. Air laut kemudian dialirkan ke dalam kolam penampungan untuk kemudian dilakukan filterisasi menggunakan zeloit alam dan ijug sapu. Seperti hasil penelitian oleh Jumaeri tahun 2017 bahwa zeloit alam sebagai pengikat impuritas sangat efektif dalam pemurnian garam. Selanjutnya menurut Drajat, Pelatih di bidang Garam Nasional mengungkapkan bahwa ijug sapu efektif digunakan untuk memfilter air laut yang masuk ke dalam meja kristal. Keduanya merupakan bahan yang akan digunakan dalam proses filterisasi air laut agar garam yang dihasilkan lebih berkualitas. Dasar kolam penampungan merupakan plastik pekat hitam atau geomembran. Dengan adanya dasar atau penadah kolam menggunakan geomembran dapat mempercepat proses penguapan sampai pada air laut tersebut berubah menjadi air tua dengan kepekatan sekitar 20 Be° – 25 Be°. Setelah itu kemudian air  tua tersebut disuplay ke meja kristal. Selanjutnya adalah didiamkan beberapa hari dan kemudian panen.

Adanya zeloit alam dalam filterisasi dapat meningkatkan kualitas garam. Garam semakin berwarna putih dan semakin murni. Garam yang sudah melalui proses filterisasi cukup layak digunakan sebagai bahan pangan dan industri. Selanjutnya rumah prisma sebagai teknologi baru produksi garam anti cuaca mampu berperan ditengah gentingnya masyarakat akan kuantitas garam. Petani garam yang menggunakan rumah prisma biasanya memproduksi air tua lebih banyak sehingga ketika musim hujan, petani garam masih dapat panen garam setiap harinya. Sehingga, kualitas dan kuantitas garam juga akan meningkat.

Penutup (Mengapa Harus RUPZA?)

            Rumah Prisma Zeloit Alam merupakan teknologi alternatif dalam mengatasi kelangkaan garam dan meningkatkan kualitas garam. Indonesia memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Apabila terjadi musim hujan, petani garam yang menggunakan teknologi tradisional akan gagal panen. Dalam teknologi tradisional, kemurnian garam masih sangat sedikit. Artinya garam masih kotor dan masih bercampur dengan zat lainnya. Berikut adalah gambar perbandingannya

Sebelah kiri daram dengan menggunakan teknologi RUPZA dan sebelahkanan garam dengan menggunakan tekonoli tradisional.

Oleh karena itu rumah prisma zeloit alam dirasa sangat cocok untuk mengatasi permasalahan yang ada. Selain itu, rumah prisma zeloit alam memiliki keunggulan lain yaitu:

  1. Harga ekonomis
  2. Penggunaan prisma sangat cocok karena mampu bertahan terhadap angin
  3. Masih bisa memproduksi garam di musim hujan
  4. Pemurnian garam semakin efektif karena adanya zeloit alam

Dari hal di atas, diharapkan teknologi RUPZA dapat menjadi teknologi tepat guna dalam mengatasi krisis garam dan sebagai upaya peningkatan kualitas dan kuantitas garam lokal. Dengan seperti itu, maka Indonesia tidak perlu lagi mengimpor garam dari luar negeri. Bahkan beberapa tahun kedepan Indonesia diharapkan mampu menjadi negara pengekspor garam.

Daftar Pustaka

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3576120/ini-penyebab-pasokan-garam-di-daerah-langka.

Kusdarto, Potensi eolit di Indonesia, (Journal of Indonesia Zeolities Vo. 7 No. 2 November 2008)

https://kumparan.com/beritajatim/ini-penyebab-garam-langka-dan-mahal.

Jumaeri dkk. Inovasi Pemurnian Garam (Natriun Klorida) Menggunakan Zeolit Alam sebagai Pengikat Impuritas dalam Proses Kristalisasi, (Jurnal UNNES Vol. 15. No 2. Des 2017) Rusiyanto dkk, Penguatan Industri Garam nasional melalui Perbaikan Teknologi Budidaya dan Diversifikasi Produk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here