Beranda Berita Penyerapan Resi Gudang Garam Rakyat Masih Kecil

Penyerapan Resi Gudang Garam Rakyat Masih Kecil

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Indrasari Wisnu Wardhana mengakui penyerapan komoditas garam lewat sistem resi gudang (SGR) masih minim.

Sejak 2008 hingga 18 Mei 2021, tercatat penyerapan di 10 resi hanya 701,73 ton atau setara Rp977,49 juta dengan pembiayaan sebesar Rp70 juta.

Indra mengatakan rendahnya penyerapan garam dari penambak disebabkan oleh rendahnya kualitas garam penambak. Rata-rata garam di penambak, menurut dia, adalah jenis garam K3 yang tinggi kadar kotoran dan kadar air. Jenis tersebut, lanjutnya, tidak bisa diserap SRG.

“Yang menjadi tantangan sebenarnya di garam. Garam ini nilainya masih kecil, di Madura masih terdapat 400 ribu ton yang belum terserap. Kembali lagi ini masalah mutu,” jelasnya pada webinar ‘Reaktualisasi Sistem Resi Gudang’ pada, Selasa (25/5).

Untuk mengatasi ini, ia menyebut ingin memberikan bantuan kepada penambak dalam bentuk washing machine (mesin pencucian) atau refinery sederhana guna meningkatkan kualitas garam agar dapat diserap.

“Memang pasti ada loss (rugi) 20-30 persen kalau K3 untuk bisa disimpan, tapi ini harus dipikirkan,” katanya.

Untuk diketahui, SRG merupakan instrumen perdagangan dan keuangan di Indonesia yang membantu komoditas pertanian memperoleh pembiayaan tanpa diperlukan agunan lainnya.

Instrumen ini dapat menjadi sarana tunda jual saat panen raya ketika harga komoditas berada pada titik terendah dan membuka akses pembiayaan bagi para petani yang umumnya memiliki keterbatasan aset untuk dijadikan agunan.

SRG tidak hanya sekedar penyimpanan, namun juga pemberian nilai tambah karena komoditas yang disimpan dapat diolah sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here