Perngaruh Industri Pengguna Garam Terhadap Multiplier Efek Perekonomian Indonesia

Oleh: Putu Sri Diana Wedari dan I Wayan Sukadana

Disuting Tim Garampedia

Indonesia sebagai negara manufaktur terbesar di ASEAN, sedangkan pada peringkat dunia  manufaktur Indonesia berada di peringkat ke-9. Manufaktur berkontribusi mencapai 20,27% pada perekonomian skala nasional.

Berbagai industri manufaktur menggunakan garam sebagai bahan baku industri. Sifat alami garam yang unik maka dibutuhkan untuk membuat barang-barang yang digunakan masyarakat sehari-hari, yaitu: sabun, detergen, gelas, keramik lantai, kaca, bensin, dan masih banyak lagi.

Produksi garam sendiri di Indonesia secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu garam yang berasal dari rakyat yang disebut dengan garam rakyat dan garam industri yang memiliki standar mutu SNI 0303:2012 untuk garam industri soda kaustik dan SNI 8207:2016 untuk garam industri aneka pangan.

Kebutuhan garam tiap tahunnya cenderung naik namun produksi dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan garam nasional sehingga pemerintah masih harus melalukan impor garam untuk memenuhi kebutuhan garam nasional.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kebutuhan garam nasional pada 2021 sebanyak 4.606.554 ton. Produksi garam dalam negeri diperkirakan mencapai 1.528.653 ton, sedangkan alokasi Impor sebanyak 3.077.901 ton. Garam industri impor ini sangat dibutuhkan oleh banyak industri, posisinya sangat penting bagi rantai produksi merupakan input kunci untuk bahan baku.

Di sisi lain permasalahan garam rakyat adalah spesifikasinya tidak masuk ke dalam garam industri. Garam industri memerlukan spesifikasi kandungan NaCl diatas 96%, sedangkan garam rakyat hanya mampu menghasilkan garam dengan kadar garam maksimal 94%.

Industri membutuhkan garam dengan kadar NaCL lebih tinggi karena bahan baku adalah salah satu kunci kualitas produk yang dihasilkan industri. Sebagai contoh industri penyedap makanan membutuhkan kadar NaCl yang lebih tinggi dari garam rakyat, pemakaian garam dengan kandungan NaCl yang lebih rendah serta kadar kalsium dan kalium lebih tinggi menyebabkan produk penyedap makanan mudah menggumpal. Hal ini menyebabkan daya saing industri nasional rendah dibandingkan industri luar negeri.

Lapangan usaha industri makanan dan minuman sebagai penyumbang tertinggi pada PDB yaitu mencapai 947 miliar rupiah. Poisisi ketiga ditempati oleh industri kimia dan farmasi mencapai 239 miliar rupiah dan industri kertas mencapai 101 miliar rupiah. Ketiga industri ini merupakan industri pengguna garam industri terbanyak.

Industri makanan dan minuman yang tersebar di Indonesia sebanyak 211 perusahaan, industri kimia dan farmasi tersebar sejumlah 137 perusahaan, industri kertas tersebar sejumlah 195 perusahaan,industri tekstil dan pakaian jadi tersebar 898 perusahaan dan industri kulit tersebar 201 perusahaan.

Sentra kelima industri pengguna garam tersebut berlokasi di kawasan industri Pulau Jawa yaitu sebanyak 182 industri makanan dan minuman, 126 industri kimia dan farmasi, 170 industri pulp dan kertas, 811 industri tekstil dan pakaian jadi, serta 188 industri kulit dan barang dari kulit. Pemenuhan bahan baku untuk industri pengguna garam tersebut tentu membawa multiplier effect bagi perekonomian. Nilai tambah itu, antara lain melalui kontribusi terhadap PDRB/PDB, penyerapan tenaga kerja, dan perolehan dari ekspor berupa devisa maupun dari wilayah lain.

Bahan baku mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap produksi karena apabila bahan baku sulit didapatkan maka produsen akan menunda proses produksi. Bahan baku yang diolah menjadi barang jadi dalam industri dapat diperoleh dari pembelian lokal, import atau dari pengelolaan bahan baku sendiri. Sehingga apabila quantitas bahan baku bertambah maka produksi juga akan meningkat. Kendala bahan baku yang semakin mahal dan biaya produksi yang semakin meningkat akan menyebabkan industri mengalami kondisi ekonomi berfluktuatif

Kebijakan mengimpor garam industri yang berlaku merupakan langkah pemerintah untuk menunjang aktivitas produksi sektor industri yang menggunakan garam industri sebagai input kunci sehingga bisa menghasilkan multiplier effect melalui kontribusi terhadap PDB, penyerapan tenaga kerja, dan perolehan devisa dari ekspor.

Multiplier merupakan angka pengganda yang menunjukkan berapa besarnya kenaikkan pendapatan ekonomi masyarakat sebagai akibat dari perubahan (kenaikkan atau penurunan) variabel-variabel ekonomi

Nilai antara jumlah perubahan dengan pendapatan, jumlah kenaikkan atau penurunan dalam pengeluaran yang menimbulkan perubahan dalam pendapatan ekonomi masyarakat. Semakin besar tingkat kecenderungan marginal untuk melakukan konsumsi, semakin tinggi tingkat multipliernya.

Tabel dibawah ini adalah Location Quotion (LQ), indeks untuk mengukur tingkat spesialisasi (relatif) suatu sektor suatu wilayah tertentu.

Kelima industri pengguna garam yang terdiri dari industri makanan dan minuman, industri pulp dan kertas, industri kimia, farmasi dan obat, industri tekstil dan pakaian jadi serta industri kulit merupakan sektor basis di wilayah kawasan industri Indonesia dengan perolehan LQ rata-rata >1. Industri kulit memperoleh nilai rata-rata LQ terbesar yaitu 2.47465482memiliki arti bahwa derajat spesialisasi (konsentrasi) subsektor industri kulit dan barang dari kulit lainnya sebesar 2.47465482 kali dari sektor sejenis di Indonesia.

Index LQ di atas mengindikasikan industri pengguna garam di Indonesia akan mempunyai efek ganda atau mengakibatkan pertumbuhan sektor-sektor lain. Nilai LQ mencapai >1 merupakan sektor basis. Hal tersebut juga mengindikasikan lima industri tersebut tidak hanya mampu memenuhi permintaan pasar domestik tetapi juga mampu mengekspor ke luar wilayah lainnya di Indonesia.

Berdasarkan hasil perhitungan LQ maka dapat dapat dihitung angka pengganda basisnya pada tabel di bawah. Hal ini untuk memperkirakan seberapa besar multiplier efek yang dihasilkan oleh industri pengguna garam.

Berdasarkan hasil analisis multiplier effect menunjukkan bahwa, rata-rata nilai koefisien angka pengganda industri pengguna garam di pulau Jawa mencapai angka >1. Multiplier effect pendapatan terbesar diperoleh oleh industri kulit yang mencapai rata-rata sebesar 29.672749. Hal tersebut mengindikasikan setiap penambahan pendapatan dari industri kulit sebesar Rp1 juta, akan menghasilkan pendapatan di industri nasional  Rp.29.672.749 bagi perekonomian Indonesia.

Multiplier efek pendapatan pada industri pulp dan kertas sebesar 23.575283. Setiap penambahan pendapatan dari industri pulp dan kertas sebesar Rp1 juta, akan menghasilkan pendapatan di industri nasional  Rp.23.575.283 bagi perekonomian Indonesia.

Secara keseluruhan angka multiplier efek industri pengguna garam di pulau Jawa memiliki nilai yang besar (>1). Hal ini mengindikasikan dengan adanya subsektor industri pengguna garam tersebut dapat memberikan multiplier effect terhadap pendapatan sektor industri di seluruh wilayah Indonesia. Pendapatan yang diperoleh oleh sektor industri pengguna garam ini sebagai sektor basis pada akhirnya akan menaikkan pendapatansektor industri non basis berupa peningkatan investasi, kesempatan kerja, peningkatan pendapatan dan konsumsi serta adanya industri-industri baru dalam menciptakan kegiatan ekonomi yang akan mengirim berbagai macam komoditas untuk menunjang diversifikasi produknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here