Pertama di NTT, IDK Akan Produksi Garam Standar Industri

0
74

Pemerintah tengah mendorong NTT menjadi wilayah sentra produksi garam. Hal itu agar volume impor garam industri dapat ditekan mengingat optimalisasi infrastruktur produksi di NTT diprediksi mampu menyuplai kebutuhan industri. Salah satunya ada di Kabupaten Malaka, NTT. Kabupaten ini akan menjadi penghasil garam industri pertama di NTT yang terintegrasi dan bertaraf internasional.

Hal ini dikatakan Presiden Direktur PT Inti Daya Kencana (IDK) Harry Kristanto melalui pesan whatsApp pada Rabu (19/11/2019).

Menurut Harry Kristanto, kehadiran IDK di Malaka adalah bagaimana dari upaya dan komitmen perusahaan untuk memproduksi garam industri yang terintegrasi, terbaik dan berkualitas.

“Yang terutama ya membuat garam industri itu yang harus kita prioritaskan agar Kabupaten Malaka menjadi salah satu Kabupaten yang dapat memenuhi kebutuhan garam industri yang masih diimpor Indonesia,” kata Harry.

Menurut dia, garam yang dibutuhkan oleh industri harus memiliki spesifikasi Soda Kostik (NaOH) yang berguna untuk industri kimia, Alumina Pulp dan Kertas, industri rayon dan tekstil, industri sabun/pembersih/bahan pampers, industri makanan dan lainnya. Lalu ada Vinyl Coride Monomer (VCM) untuk bahan baku PVC atau produksi lanjutan. Serta ada Polybinyl Chloride (PVC) untuk industri pipa, kulit, industri plastik lembaran, industri kabel, botol, industri sepatu dan yang lainnya.

Harry mencontohkan, selain beberapa kandungan tersebut, industri juga mempunyai batas toleransi tertentu untuk kadar kotoran dalam garam atau blackspot, terutama bagi industri makanan minuman. Data dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritman menunjukkan, untuk Unilever Indonesia dalam memproduksi margarin atau seasoning membutuhkan kadar NaCl sebanyak 98%, kadar air maksimal 0,20%, Kalsium maksimal 600 per part million (ppm), Magnesium maksimal 400 ppm, kadar kotoran 0%.

Saat ini lahan yang dikelola 32 hektar, dan 300 hektar yang masih dalam infrastruktur. Luasan itu merupakan tambak pilot project dan menjadi salah satu lokasi usaha yang berada di tiga zona. Semua lahan milik IDK akan memproduksi garam industri dengan penggunaan teknologi tinggi.

“Sudah dibebaskan 1.100 hektar lahan masyarakat. Target seluruh lahan adalah seluas 2.500 hektar yang berada di 16 desa dalam empat kecamatan. Tiga zona dimaksud berada dalam bentangan pantai Kecamatan Kobalima, Malaka Tengah, Malaka Barat dan Wewiku,”jelasnya

Selain itu juga PT IDK ada program CSR yang akan melakukan pembudidayaan mangrove dan juga sorgum.

“Nanti bulan Desember kita akan coba tanam bibit sorgum terunggul di Indonesia yang kerja sama degan LiPi Jakarta. juga nanti yang potensia ialah tanaman lontar, rumput laut dan lain-lain, masih banyak potensi di NTT pak”, tulis Harry kepada redaksi garampedia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here