Potensi Industrialisasi Garam NTT Digarap 10 Persen

garam indonesia
garam kementerian kelautan dan perikanan

Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki potensi industrialisasi garam dengan sekitar 3500 hektar potensi lahan garam di Sumbawa, hanya 350 – 400 hektar yang tergarap atau 10 persen dari potensi yang ada. Itupun garapan garam rakyat maupun swasta masih terfokus pada tiga titik. Sehingga industrialisasi garam menuju garam beryodium kini mulai digarap.

Kabid Perindustrian Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Sumbawa, Andi Kusmayadi M.Si, mengatakan ada tiga titik sentra produksi garam di Sumbawa. Yakni di Labuan Bontong kecamatan Tarano dengan lahan sekitar 350 hektar, yang mana menghasilkan 5000 ton garam pertahunnya. Labuan Bajo kecamatan Utan menghasilkan 200 ton pertahunnya. Sedangkan di Labuan Kuris kecamatan Lape, hanya 20 ton pertahun.

Sehingga NTT dibutuhkan industrialisasi menuju garam beryodium. Dalam hal ini, Pemkab Sumbawa akan membangun gedung produksi dan mesin pengolahan garam beryodium di Labuan Bontong pada tahun ini. Anggarannya bersumber dari DAK Kementrian Perindustrian dengan nilai Rp. 3,4 Miliar. “Bangunan ini segera ditender,”singkatnya.

Mesin pengolahan garam tersebut berkapasitas 20 ton perharinya. Dengan mnegcu keada tren produksi garam Labuan Bontong. “Kita menghadikan pabrik produksi garam beryodium. Sebab kalau garam beryodium harganya bisa Rp. 5000 per 250 gram atau Rp. 20 ribu perkilogram. Syarat garam berodium pun harus ber SNI dan ini juga telah dicoba di Labuan Kuris,” tukas Andi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here