Beranda Kolom Problematika Produksi Garam Nasional

Problematika Produksi Garam Nasional

garam industri

Garam? Siapa sih yang gak butuh garam dalam kehidupannya? Ya semua orang baik itu dalam rumah tangga maupun suatu industri semuanya membutuhkan garam dalam beberapa macam kegiatan, misalnya untuk konsumsi makan sebagai penyedap rasa maupun sebagai pengawet alami pada produk perikanan maupun pangan lainnya.

Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau 13.446, luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2 (Indonesia Finansial). Hal tersebut menunjukkan betapa besarnya potensi Indonesia untuk industri garam dan potensi garam pasar. Oleh karena itu garam adalah komoditi strategi nasional baik dari produksi dan pasar di Indonesia.

Ketersediaan lahan dan kurangnya pembinaan petani garam dari pemerintahan adalah faktor yang menghambat program swasembada garam nasional. Oleh karena itu, pemerintah harus memiliki perencanaan yang jelas dan matang agar bisa memutus ketergantungan garam impor akibat dari industri garam yang masih bermasalah.

“Saat ini, masih tingginya ketergantungan Indonesia akan garam impor, menandakan masih adanya permasalahan di industri garam nasional yang harus segera ditangani. Cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah yang menyelimuti industri garam adalah pembinaan pada petani garam”, ucap Wakil Ketua Komisi VI DPR dari fraksi PDIP Aria Bima.

Selain itu, pendekatan pengolahan produksi garam bersifat industri. Dengan daya tampung yang dialokasikan oleh BUMN sebaiknya dihentikan. Hal ini bertujuan agar garam semakin bergairah, serta perlunya perhatian akan kadar mutu garam tersebut.

Banyak petani garam untuk memanen garamnya dengan waktu yang relatif cepat tanpa memperhatikan mutu garam tersebut. Selisih dari harga garam yang bermutu baik dengan yang bermutu kurang baik sangat relatif sedikit. Dengan adanya beberapa masalah tersebut  menjadikan kinerja industri garam tidak optimal dan produktivitas garam selalu turun setiap tahunnya. Untuk mengatasinya sebaiknya harus ada nilai tambah dari garam yang diproduksi petani garam.

Solusi agar Indonesia tidak terus-menerus tergantung pada impor garam adalah segera dilakukan berbagai penguatan yaitu perlu adanya penyertaan modal Negara untuk memecahkan kembali industri garam oleh BUMN. Pemerintahan bisa memberikan subsidi dalam wujud teknologi yang berupa alat-alat untuk memproduksi garam yang tepat guna dan mudah diimplementasikan oleh petani garam. Karena sangatlah tidak masuk akal kalau kita menjadi importer garam yang sangat besar dengan jumlah luas perairan dan daratan yang sangat luas di Indonesia.

Untuk tingkat produksi garam yang ada di Indonesia terhitung bahwa di Jawa masa produksi garam mencapai 70 ton per hektar per musim. Dengan masa kemaraunya hanya berkisar 4 bulan saja. Sementara di NTT bisa memproduksi minimal 140 ton per hektar per tahun dan setiap tahunnya, 8 bulan untuk musim kemaraunya. “Untuk jumlah seluruh garam yang di dihasilkan setiap tahunnya mencapai 1,2 juta ton sudah dihitung dengan milik PT Garam, ujar ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI), Jakfar Sodikin.

Di Indonesia telah memiliki 11 wilayah sentral produksi garam yaitu di Pati, Rembang, dan Demak ( Jateng ), Indramayu dan Cirebon ( Jabar ), Sampang, Pamekasan, dan Pasuruan ( Jatim ), Jeneponto ( Sulsel), serta Bima (NTB).

Problematika garam nasional dapat terbagi menjadi 3 kelompok yaitu produksi, pemasaran, penawaran serta permintaan. Masalah produksi yaitu produksi garam sangat tergantung pada iklim, teknologi yang digunakannya pun masih tergantung pada cuaca dengan iklim kemarau yang relatif pendek.

Kondisi produsen umumnya merupakan petani garam secara sosial ekonomi yang tergolong lemah serta belum lagi struktur kepemilikan lahan dengan petani pemilik tanah dan petani penggarap dengan sistem pembagian yang tidak adil bagi penggarap. Adanya keterbatasan modal kerja sehingga petani terperangkap dalam sistem ijon dan rendahnya harga garam petani menyebabkan sebagian lahan pegaraman rakyat beralih fungsi yang menyebabkan produksi harga garam menurun.

Problematika penawaran dan permintaan pada pergaraman nasional. Pada sisi penawaran yaitu saat-saat tertentu terdapat kelebihan supply atau kekurangan supply, produksi musiman, barang monopolitis atau tidak adanya subtansi, penawaran dalam bentuk curai dan olahan.

Di sisi permintaan terdapat masalah yaitu permintaan yang berkelanjutan , terus meningkat, in-elastis, untuk konsumsi makan, digunakan untuk industri perikanan dan pangan, serta permintaan yang tidak tersebar secara merata. Selain itu juga bisa produksi melimpah sedangkan penawaran dihadapkan di posisi yang lemah.

Permasalahan yang komplek itu tidak dapat diselesaikan secara satu pihak dan dalam kurun waktu yang singkat. Hal tersebut membutuhkan hasil rekayasa dari pemerintah sebagai regulator, sekaligus eksekutor yang memiliki kuasa akan hal politik maupun perekonomian nasional. Perlu adanya sinergi antara lembaga pemerintahan sendiri. Misalnya Kementrian Kelautan dan Perikanan, Kementrian Keindustrian. Kementrian Kesehatan, Kementrian Perdagangan, Kementrian Keuangan, Pemerintahan Daerah dan DPRD Kabupaten setral garam dan semua pihak yang berkaitan mengambil kebijakan serta eksekusi rantai produksi, ditribusi serta konsumsi garam nasional baik rumah tanggga maupun industri.

Sinergi ini akan menjadi solusi jangka panjang atas ketidakmampuan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan garam nasional baik rumah tangga maupun industri. Sudah selayaknya kita sebagai anak bangsa melihat jauh kedepan dalam penyelesain masalah di lapangan saat ini dengan solusi satu atap. Sehingga diharapkan penyelesaian yang dilakukan tidak tambal sulam dan hanya menjadi solusi semata.

Jadi, masih banyak kendala yang dihadapi pemerintah untuk produksi garam yang menjadikan  pemerintah Indonesia masih mengimpor garam dari Negara lain. Padahal di Indonesia luas daerah daratan maupun perairannya sangatlah luas tetapi belum bisa memanfaatkannya dengan benar.

Untuk mengatasi kendala-kendala yang terjadi pada produksi garam di Indonesia, sebaiknya dari produsen garam baik pada industri maupun petani garam harus mampu berkerjasama dengan pemerintah untuk mencari solusi untuk menanggulangi ataupun mengurangi impor garam dari Negara lain. Serta kepekaan dari pemerintah untuk membantu produsen garam untuk meninggkatkan hasil panen garam sekaligus dengan kadar mutu yang baik yang misalnya, memberikan teknologi yang canggih untuk proses produksi pengolahan garam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here