SDM, SDA dan Kualitas Rendah Penyebab Indonesia Masih Impor Garam

kualitas garam
Oleh : Nadzir Habibul Arsy

Indonesia merupakan negara maritim dengan panjang garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan panjang 99.093 km.1 meskipun mempunyai cadangan garam yang tinggi, hal ini tak membuat Indonesia memiliki kuantitas garam yang banyak dan kualitas garam yang baik. bahkan data terakhir, Indonesia masih tergantung pada impor garam sekitar 2.2 juta ton di tahun 2018.2 Hal ini terjadi karena produksi nasional dan kebutuhan nasional tidak seimbang.

Beberapa problem seperti cuaca, kurangnya lahan, hingga menurunya petani garam menjadi faktor menurunya produksi garam di Indonesia. Menurut cucu surata (Sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam) faktor cuaca menjadi penyebab utama produksi garam begitu minim selama setahun terakhir,3 hal ini dikarenakan petani garam masih mengguanakan teknologi tradisional dan memanfaatkan energi matahari.

Untuk mengatasi cuaca, Siaman Arifin salah satu petani garam memberikan inovasi Rumah Garam Prisma yang tahan segala kondisi. Perbedaan mendasar adalah dari segi produtivitas, jika menggunakan tambak garam konvensional rata-rata menghasilkan 60-80 ton/hektar, tetapi dengan menggunakan metode Rumah Garam Prisma rata-rata yang dihasilkan antara 120-125 ton bahkan bisa sampai 400 ton/hektar setiap tahunya.4

Faktor kurangnya lahan juga menjadi minimnya pasokan garam untuk memenuhi kebutuhan garam di Indonesia. Menurut Hartono, Direktur Operasional PT. Garam (persero), mengungkapkan lahan garam secara nasional baru ada 30.000 hektare, jika prodiktivitas rata-rata 100 ton/hectare, maka baru menghasilhan 3 juta ton maksimal dengan syarat iklim yang bagus. Padahal Indonesia membutuhkan 4.4 juta ton. Itu artinya masih kurang 1.4 juta ton garam.5

Masalah lahan ini menjadi hal yang sangat berpengaruh, mengingat proses produksi garam membutuhkan lahan yang tidak sedikit. PT. Garam (persero) berencara menambah lahan seluas 10.000–15.000. hal ini diungkap oleh direktur operasional PT. Garam (Persero), hartono, jika hal tersebut terwujud, maka produksi garam bertambah sekitar 1.5 juta ton/hektar, maka total produksi bisa mencapai 4.5 ton/hektar setiap tahun dan Indonesia bisa swasembada garam.6

Tetapi menambah lahan baru juga belum sepenuhnya mengatasi masalah. Faktor petani garam yang mulai jenuh sedikit demi sedikit mulai meninggalkan profesinya sebagai petani garam. Hal ini karena garam rakyat kalah dengan garam impor, sedangkan naiknya harga garam di pasar tidak berdampak kepada naiknya pendapatan petani garam. faktor pendapatan yang menurun beberapa waktu terakhir, membuat petani garam beralih profesi

Menurun-nya petani garam di Indonesia menjadi penyebab minimnya produksi garam di Indonesia. Data dari KIARA (koalisi rakyat untuk keadilan perikanan) menunjukan jumlah petani garam menurun drastis, yakni dari 30.668 petani pada tahun 2012 menjadi 21.050 petani pada tahun 2016, artinya ada sekitar 8.400 petani garam beralih profesi.7

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira Adhinegara, yang menjadi permasalahan petani tambak lokal selalu kalah saing dengan garam impor, terutama untuk garam industri. 91 persen kebutuhan garam industri dari impor, sementara itu peningkataan teknologi bagi produsen garam lokal stagnan. pemerintah seharusnya fokus dalam peningkatan kualitas hasil produksi garam lokal, sehingga daya saingnya meningkat.8

Apabila lahan yang luas sudah dibuka sedangkan minat untuk menjadi petani garam masih rendah, maka produksi tidak akan maksimal.

Untuk mengatasi hal tersebut, memaksimalkan Program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) menjadi solusi. Hal ini bertujuan untuk mengintensifkan lahan garam dan mendongkrak produktivitas garam rakyat.9 Jika terlaksana dengan maksimal, maka minat petani garam akan kembali lagi bahkan bertambah banyak.

Faktor-faktor demikian yang membuat Indonesia masih impor garam meskipun memiliki potensi cadangan garam yang besar. Hal ini harus menjadi perharian khusus bagi pemerintah, mengingat Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menuju swasembada garam. Lahan-lahan yang berpotensi besar seperti NTT, Aceh, Madura, dan lain-lain. Harus segera dimanfaatkan.

Maksimalnya produksi garam milik rakyat masih belum menjamin kualitas yang baik, karena pemasok terbanyak garam nasional adalah sektor industri, sekitar 3,7 ton. sedangkan spesifikasi garam di sektor industri tinggi dan garam yang di produksi rakyat masih tergolong rendah. Tanpa adanya industralisasi yang terorganisir dan terstruktur sulit bagi para petani garam rakyat mencapai spesifikasi yang diinginkan industri.

Sangat wajar jika sektor industri di Indonesia masih impor garam, karena garam lokal milik rakyat belum memenuhuhi spesifikasi. Garam industri harus memiliki NaCl minimal 97% khsusus industri pangan Ca dan Mg < 600 ppm.10 Industrialisasi garam sangat penting guna meningkatkan mutu garam petani lokal, karena impor garam terbesar ada di sektor industri.

Faktor-faktor diataslah yang membuat Indonesia masih impor garam dan sulit mencapai swasembada garam, tentu tiga aspek penting SDM (sumber Daya Manusia), SDA (Sumber Daya Alam) dan kualitas yang baik harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah, mengingat besarnya cadangan garam yang ada di Indonesia. Program pemerintah (PUGAR) dan industrialisasi garam sangat bermanfaat besar jika dilakukan secara maksimal. Hal ini akan berguna pada kesejahteraan petani garam dan mensukseskan swasembada garam di Indonesia.

_______

2Herdi A, “Indonesia masih impor 2,2 juta ton garam/tahun”, (https://finance.detik.com/industri/d- 4330619/indonesia-masih-impor-22-juta-ton-garamtahun, tanggal 28 Mei 2019)

3Jerome Wirawan, “Indonesia Negara Maritim tapi mengapa harus mengimpor garam?”, (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-40792179, tanggal 28 Mei 2019)

4Eko Sudjarwo, “Ini Keunggulan Rumah Garam Prisma yang Tak Bergantung Musim”, (https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3579884/ini-keunggulan-rumah-garam-prisma- yang-tak-bergantung-musim, tanggal 28 Mei 2019)

1Membangun Dan Menjaga Ekosistem Laut Indonesia Bersama Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (https://kkp.go.id/djprl/artikel/2798-refleksi-2017-dan-outlook-2018-membangun-dan- menjaga-ekosistem-laut-indonesia-bersama-ditjen-pengelolaan-ruang-laut, tanggal 28 Mei 2019)

5Herdi A, “Indonesia masih impor 2,2 juta ton garam/tahun”, (https://finance.detik.com/industri/d- 4330619/indonesia-masih-impor-22-juta-ton-garamtahun, tanggal 28 Mei 2019)

6Wilfridus Setu, “Capai Swasembada Garam, RI Butuh Tambahan Lahan Hingga 15 Ribu Hektar”, (https://www.liputan6.com/bisnis/read/3799343/capai-swasembada-garam-ri-butuh- tambahan-lahan-hingga-15-ribu-hektar, tanggal 28 Mei 2019)

7Kiara, “Impor Bikin Petani Garam Alih Profesi”, (https://www.kiara.or.id/impor-bikin-petani-garam-alih- profesi/, tanggal 28 Mei 2019)

8Tim Viva, “Impor Garam Bikin Petani Garam Alih Profesi”, (https://www.viva.co.id/arsip/942054-impor- bikin-petani-garam-alih-profesi, tanggal 28 Mei 2019)

9Arlyta Dwi dan Bontor P, “PUGAR: Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (https://indonesiabaik.id/infografis/pugar-pemberdayaan-usaha-garam-rakyat-2018, 29 Mei 2019)

10Arlyta Dwi dan Bontor P, “Beda Garam Konumsi dan Garam https://indonesiabaik.id/infografis/beda-garam-konsumsi-dan-garam-industri, tanggal 29 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here