Strategi Pengendalian Impor Garam Melalui Prediksi Produksi Garam

produksi garam
Oleh: Rikha Bramawanto

Pemenuhan kebutuhan garam nasional ditopang oleh 25-26 ribu hektar lahan garam produktif yang tersebar setidaknya di 44 kabupaten/kota. Luasan tersebut hanya menghasilkan garam sebanyak 2  sampai 2,4 juta ton, dengan asumsi rata-rata produktivitas sekitar 100 ton/ha per musim dalam 4-5 bulan musim kemarau normal.[1] Di sisi lain total kebutuhan garam nasional (konsumsi dan industri) terus meningkat menjadi sekitar 3,98 juta ton per tahun.[2] Sederhananya, saat ini dukungan luas lahan untuk produksi garam masih belum mampu memenuhi kebutuhan garam nasional, meskipun untuk kebutuhan konsumsi sudah dapat tercukupi (swasembada). Hal ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk masih mengimpor garam. Permasalahannya adalah seberapa besar impor harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri, namun sekaligus tidak membuat harga “terjun bebas” hingga menyentuh harga Rp 250,- per kilogram, seperti yang terjadi pada tahun 2015.

Idealnya, jumlah rencana impor garam harus mempertimbangkan ketersediaan garam dari produksi domestik yang dihitung sebagai target produksi dan stok tahun berjalan. Sejak tahun 2010, target produksi garam selalu ditingkatkan namun sering tidak terealisasi. Kegagalan pencapaian target produksi paling signifikan terjadi pada tahun 2010, 2013, 2016 dan 2017 yang masing-masing hanya sebanyak 2,35%, 43,51%, 3,93% dan 34,38%. Sementara produksi dapat melebihi target hanya terjadi pada Tahun 2012 & 2015, masing-masing sebanyak 157% dan 112%. Penyebab utamanya adalah kondisi iklim dan cuaca saat produksi garam berlangsung. Ketidakpastian pencapaian target produksi tersebut menyulitkan perencanaan kuota impor garam. Hal ini dapat disebabkan karena belum adanya metode prediksi yang akurat untuk penetapan target tersebut. Pada awal tahun 2018 KKP memprediksi produksi garam lebih dari 1,5 juta ton sehingga hanya dibutuhkan impor garam sebanyak 2,2 juta ton.[3]   Namun, untuk memperkuat pernyataan tersebut diperlukan penjabaran metode ilmiah untuk prediksi yang akurat dan reliable.

Hasil kajian menunjukkan adanya interaksi antara kondisi El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) dengan lama musim kemarau yang mempengaruhi produksi garam. El Niño kuat atau sangat kuat dan IOD fase positif yang terjadi secara simultan mengakibatkan kondisi kekeringan berlangsung lebih lama sehingga meningkatkan jumlah produksi garam, sebagaimana kejadian tahun 1982, 1997 dan 2015. Sebaliknya La Niña dan fase IOD negative yang terjadi secara simultan, bepotensi meningkatkan curah hujan sepanjang musim kemarau. Hal inilah yang dapat menyebabkan gagal panen garam di seluruh sentra garam, sebagaimana yang terjadi pada tahun 1998, 2010 dan 2016.[4]   Dengan demikan semakin jelas bahwa faktor iklim-cuaca sangat mempengaruhi produksi garam. Data historis iklim-cuaca dan produksi garam dapat digunakan untuk memprediksi produksi garam.

Sejumlah metode dapat diaplikasikan untuk memprediksi jumlah produksi garam berdasarkan prakiraan kondisi klimatologis saat musim panen garam berlangsung, antar lain adalah analisis regresi linier berganda, Artificial Neural Network (ANN) dan Adaptive Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS). Curah hujan saat kemarau, Indeks Niño 3.4 dan Indeks Dipole Mode menjadi varibel bebas sedangkan produksi garam (PT Garam & Nasional) variabel terikat. Prediksi tersebut dapat didukung pula dengan mencari keserupaan antara pola sebaran evaporasi dan presitipasi di masa kini dengan pola di masa lampau. Hasil dari beberapa metode pendugaan tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2018 produksi garam diperkirakan mencapai 2,1 juta ton. Hasilnya tidak terlalu jauh dengan realisasi produksi 2018 yaitu sekitar 2,3 juta ton. Sedangkan prediksi produksi garam tahun 2019, berdasarkan prakiraan iklim hingga akhir musim kemarau 2019, berkisar antara 2,21 – 2,48 juta ton (rata-rata 2,33 juta ton). Tingkat akurasi berbagai metode tersebut di atas 80% sehingga prediksi produksi garam ini cukup akurat dan reliable digunakan sebagai faktor pengendali neraca garam nasional. Prediksi produksi garam yang akurat dapat meminimalkan risiko kesalahan perencanaan impor garam yang dapat berdampak pada kesejahteraan petambak garam.

Bukti menunjukkan bahwa kuota impor garam sebanyak 3,7 juta ton pada tahun 2018 adalah ”keliru” dan berdampak pada penurunan harga garam domestic yang cukup signifikan. Data BPS menyebutkan bahwa hingga akhir September telah masuk garam impor sebanyak 2,2 juta ton. Bersamaan dengan itu produksi garam nasional hingga akhir bulan September sudah mencapai 1,4 juta ton dan terus meningkat mencapai 1.94 juta ton pada akhir Bulan Oktober 2018.[5] Hal tersebut berdampak pada penurunan  harga garam yang cukup signifikan di Propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tercatat harga garam pada Bulan Juni 2018 berkisar antara Rp 1.800 sampai Rp 2.000 per kilogram turun menjadi hanya Rp 800,- sampai Rp 900,- per kilogram di Bulan September.[6] Data juga membuktikan ketika terjadi surplus garam berlebihan seperti pada Tahun 2015, harga garam dapat terpuruk hingga menyentuh Rp 250,- per kilogram. Kekeliruan tersebut juga berdampak pada tidak terserapnya garam rakyat. Bahkan hingga awal Akhir Maret 2019, tiga bulan menjelang musim garam 2019, stok garam di beberapa sentra garam masih banyak yang belum terserap.[7] Sekira 1,39 juta ton stok akhir 2018 menjadi stok awal 2019.[8]

Menyikapi hal tersebut Ombudsman RI menyatakan bahwa  ditemukan beberapa maladministrasi impor tahun 2018 dan penyalahgunaan distribusi impor garam oleh PT MTS.[9]  Kemudian Pemerintah menurunkan rencana impor menjadi sebanyak 2,7 juta ton pada tahun 2019, berkurang 37% dari tahun sebelumnya.[10]   Namun dengan memperhatikan prediksi produksi garam 2019 sebanyak 2,33 juta ton, stok awal 2019 sebanyak 1,39 juta ton, serta rencana impor 2,7 juta ton, maka akan tersedia garam sebanyak 6,42 juta ton pada tahun 2019. Sementara kebutuhan garam nasional sebesar 4 juta ton. Sehingga rencana impor garam sebanyak 2,7 juta ton perlu ditinjau kembali karena akan menimbulkan surplus berlebihan yaitu sebanyak 2,4 juta ton. Surplus garam sebanyak itu sama banyaknya dengan produksi garam satu musim. Tentu hal ini berpotensi semakin memberatkan dan menurunkan antusiasme petambak garam dalam memproduksi garam.

Pemanfaatan prediksi produksi garam berdasarkan prakiraan iklim-cuaca dapat dijadikan sebagai salah satu solusi untuk menjaga keseimbangan neraca komoditas garam. Beberapa metode prediksi menghasilkan pendugaan produksi garam yang cukup akurat. Prognosa neraca garam dapat diestimasi lebih cermat dengan adanya prediksi produksi garam domestik dan rencana impor “seperlunya”. Sehingga kebutuhan garam nasional dapat terpenuhi dan stok akhir tahun tidak dalam kondisi defisit maupun surplus yang berlebihan. Hal ini dapat menjamin kelangsungan industri pengguna bahan baku garam dari kelangkaan garam akibat dari defisit stok dan menghindarkan petambak dari kerugian akibat turunnya harga yang dipicu oleh surplus stok  garam yang berlebihan. Hal ini menjadi upaya perlindungan terhadap petambak garam sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2016 dan Permen KP nomor 66 Tahun 2017.


[1] KKP. (2016) Produksi Garam Indonesia. (http://statistik.kkp.go.id/sidatik-dev/Berita/Analisis%20Produksi%20Garam%20Indonesia.pdf).

[2] Yuliawati, 2018. Panen Garam Rakyat Terasa Pahit Akibat Serbuan Impor. (https://katadata. co.id/telaah/2018/11/08/panen-garam-rakyat-terasa-pahit-akibat-serbuan-impor)

[3] Anggraeni, K., 2018. KKP Prediksi Produksi Garam 1,5 Juta Ton, Impor Cukup 2 Juta Ton (https://bisnis.tempo.co/read/1053018/kkp-prediksi-produksi-garam-15-juta-ton-impor-cukup-2-juta-ton).

[4] Bramawanto, R & R.F. Abida (2017) Tinjauan Aspek Klimatologi (ENSO dan IOD) Terhadap Produksi Garam Indonesia. Jurnal Kelautan Nasional. Vol. 12, No. 2, 91-99.

[5] Hadiyantono, T., 2018. Produksi garam nasional hingga akhir Oktober 2018 mencapai 1,94 juta ton (https://industri.kontan.co.id/news/produksi-garam-nasional-hingga-akhir-oktober-2018-mencapai-194-juta -ton).

[6] BPS, 2018. Metodologi Survei Pendataan Garam Rakyat Tahun 2018. Presentasi pada Diskusi Panel Urgensi Prediksi Produksi Garam Sebagai Faktor Pengendali Neraca Garam Nasional. 8 November 2018.

[7] Aziz, A. 2019. Sebagian produksi garam rakyat Sampang 2018 belum terserap. Berita. https://www.antaranews.com/berita/816751/sebagian-produksi-garam-rakyat-sampang-2018-belum-terserap.

[8] Manalu, J.E.R. .2019. Sisa Stok Garam Masih 1,39 Juta Ton. https://ekonomi.bisnis.com/read/20190303/99/895466/sisa-stok-garam-masih-139-juta-ton

[9] Rahman, M.R. 2019. Saran Ombudsman turunkan impor garam 2019. Berita. (https://www.antaranews.com/berita/794800/saran-ombudsman-turunkan-impor-garam-2019)

[10] Matondang, D. 2019. Alokasi impor garam 2019 turun 37% menjadi 2,7 juta ton. Berita. (https://industri.kontan.co.id/news/alokasi-impor-garam-2019-turun-37-menjadi-27-juta-ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here