Tak Laku, Petambak Cirebon Pilih Menimbun Garam Hingga 2 Tahun

Gudang Garam

Nasib baik tak kunjung datang pada petambak garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Selama panen raya tahun 2018 & 2019, mereka memilih menimbun garam hasil produksinya dikarenakan tidak laku di pasaran.

“Garam rakyat sudah dua tahun ini tidak laku di pasaran, di mana per kilogram hanya dihargai Rp230. Sedangkan untuk ongkos produksi sampai panen bisa mencapai Rp1.000 per kilogram,” kata petani garam Cirebon Ismail Marzuki di Cirebon, Senin, dikutip dari antaranews.com

Ismail menyayangkan harga garam yang tak kunjung membaik, padahal ada sekitar 150 ton garam yang ditimbun. Belum lagi akan memasuki musim panen tahun ini. 

Sementara Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo pada saat kunjungan kerja di Kabupaten Cirebon beberapa waktu lalu saat ditanya petani hanya berjanji melakukan pembenahan terhadap produksi garam rakyat, agar bisa memasok industri dengan cara menaikkan NaCl di atas 97 persen sesuai kebutuhan.

“Yang akan saya lakukan terhadap garam rakyat ini, saya akan pastikan kualitas garam kita NaCl nya di atas 97 persen,” kata Menteri Edhy Selasa (7/7) saat melakukan kunjungan kerja di Pelabuhan Perikanan Gebang, Kabupaten Cirebon.

Edhy menuturkan produksi garam rakyat yang sekarang ini NaCl nya masih di bawah 97 persen, untuk itu tidak bisa masuk ke industri yang membutuhkannya.

Butuh Kebijakan Khusus

Selain meningkatkan kualitas garam, pemerintah juga seharusnya mendorong perbaikan tata niaga garam dan kinerja BUMN Garam.

Masalah utama yang membuat harga anjlok ialah karena garam dikeluarkan dari komoditas yang diatur dalam Perpres 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting.

Dulu di Perpres 71, garam dimasukkan barang kebutuhan pokok dan penting, sama daging, susu, tepung, cabai. Jadi pemerintah bisa menetapkan harga HPP, istilahnya harga dasarnya. Tapi, kemudian Perpres diubah kemudian dikeluarkan dari Perpres yang baru, diganti ikan sakit perut, ikan kembung. 

Akibat tidak adanya regulasi yang mengatur tentang patokan harga garam, maka mekanisme pasar yang menentukan. Saat ini rata-rata harga garam berada di kisaran Rp 300 di tingkat petani dan Rp 700 di gudang PT Garam. Harga garam akan dinilai layak manakala berada di angka lebih dari Rp 1.000. 

BUMN garam (PT Garam) juga memiliki peran penting untuk menstabilkan harga garam. Adanya penyerataan modal negara sebanyak Rp 510 miliar per tahun dirasa cukup untuk menyerap dan menyalurkan garam nasional.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here