Tantangan Industri Pengolahan Garam di Indonesia

0
19
Emy Puspita Yuendini (Geografi Lingkungan, Universitas Gadjah Mada) 

Meskipun berada di daerah tropis dan memiliki garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia tetap butuh impor garam. Setidaknya, itulah fakta saat ini yang harus diterima dengan baik-baik. Lihatlah, total garam yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini tetap tinggi, terutama untuk kebutuhan industri. Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa kebutuhan garam industri untuk tahun 2018 di Indonesia sebesar 3,7 juta ton1. Impor garam tersebut sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri seperti industri petrokimia, pulp dan kertas, pangan, tekstil, farmasi, hingga kosmetik. Lantas, bagaimana perkembangan terkait dengan kondisi pemasaran garam di lapangan?

Alokasi Impor Garam di Indonesia

Mengapa kegiatan industri juga membutuhkan garam? Dan mengapa juga harus impor? Mengapa tidak menggunakan hasil produksi garam para petani lokal saja? Jawabannya pun sederhana. Karena hasil produksi garam para petani lokal tidak bisa memenuhi persyaratan untuk kebutuhan garam industri. Kualitas garam yang dibutuhkan untuk kegiatan industri ini harus memiliki kandungan natrium klorida (NaCl) minimal 97 persen. Selain itu, ada kandungan lain yang perlu diperhatikan seperti kalsium dan magnesium dengan nilai maksimal 600 ppm serta kadar air yang rendah2.

Indonesia belum bisa memproduksi kualitas garam yang dibutuhkan oleh sektor industri. Menyedihkan memang. Apalagi tidak semua negara yang memiliki wilayah laut luas bisa menghasilkan garam industri. Indonesia salah satunya. Tetapi bukankah saat ini semua masalah bisa ditangani dengan canggihnya teknologi? Ah, tapi faktanya petani garam lokal kita pun masih menggunakan metode tradisional untuk memproduksi garam. Pantas saja, kualitasnya juga tidak sebagus kualitas garam impor.

Alhasil, produksi garam Indonesia hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi. Lebih- lebih apabila impor garam untuk industri tersebut dipasarkan secara ilegal menjadi garam konsumsi di lapangan. Tentu hal tersebut akan sangat merugikan para petambak garam. Lalu, sampai kapankah Indonesia akan terus berpacu pada kegiatan impor garam tersebut?

Industrialisasi Garam Menjawab Permasalahan Garam Lokal

Garam sampai saat ini masih menjadi bahan baku pokok yang sangat dibutuhkan oleh sejumlah industri untuk menunjang proses produksinya. Keberadaan garam pada sektor industri dapat meningkatkan nilai tambah pada barang produksi, sehingga pasokan garam ini harus selalu dijaga. Permasalahan mulai muncul terkait dengan kualitas garam yang diproduksi petani lokal. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi, permasalahan ini kemudian dapat diatasi dengan mendorong investasi baru atau ekspansi di sektor industri pengolahan garam di Indonesia3.

Sektor industri pengolahan garam yang mulai dikembangkan di Indonesia saat ini menjadi tantangan sekaligus jawaban akan permasalahan kebutuhan garam. Pembangunan industri pengolahan garam akan berfokus untuk meningkatkan kualitas garam produk lokal sehingga tidak hanya memiliki kandungan natrium klorida (NaCl) sebesar 97 persen namun juga kandungan kalsium dan magnesium sebesar 600 ppm dan kadar air yang rendah.

Penggunaan mesin berteknologi tinggi dimanfaatkan untuk dapat memproduksi garam dengan kualitas yang lebih baik. Salah satu perusahaan pengolahan garam di Indonesia yaitu PT. UNIchemCandi yang telah melakukan investasi pengolahan garam dengan proses washing dan refinery. Dengan hasil produksi garam rafinasi sekitar 70 ribu ton per tahun dan garam pencucian sebanyak 180 ribu ton pertahun, perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan pengolahan garam terbesar di Indonesia, dan diharapkan dapat menjadi contoh bagi perusahaan pengolahan garam lainnya.

Tantangan Industri Pengolahan Garam di Indonesia

Industri pengolahan garam dibuat untuk mendukung program pemerintah dalam mewujudkan swasembada garam serta bisa membangun ketahanan pangan nasional3. Beberapa sektor industri pengolahan garam telah berkomitmen untuk menyerap produksi petambak garam dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Tantangan yang dihadapi oleh para perusahaan yaitu harus bisa mengoptimalkan hasil garam para petambak lokal.

Hal tersebut juga harus menyesuaikan dengan kesepakatan harga dengan petambak garam lokal, sehingga kedua belah pihak mendapat keuntungan yang seimbang. Harapannya, tentu seluruh hasil petambak garam lokal dapat terserap pada industri pengolahan garam tersebut. Mengingat bahwa total penawaran produksi garam para petambak lokal di Indonesia cukup sedikit, sementara permintaannya semakin banyak. Dengan begitu, diharapkan dapat terwujud kolaborasi antara perusahan dan petambak garam yang nantinya bisa mendukung kemajuan produksi industri garam Indonesia.

Keberadaan sektor industri pengolahan garam menjadi salah satu harapan masyarakat Indonesia untuk dapat mengurangi impor garam. Selain itu, industri pengolahan garam juga diharapkan dapat menjaga keberadaan salah satu pasokan bahan baku industri. Sebagaimana garam yang menjadi bahan baku penting dalam beberapa sektor industri, maka pasokannya harus selalu dijaga untuk mewujudkan kestabilan usaha, iklim investasi yang kondusif, serta untuk terus menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang banyak. Apabila sektor industri pengolahan garam dapat berkembang dengan baik, maka diprediksi dapat memenuhi permintaan pasar dalam negeri, apalagi sektor permintaan pasokan garam tersebut merupakan sektor-sektor andalan di Indonesia.

Kesimpulan

Walaupun Indonesia belum bisa memproduksi kualitas garam yang dibutuhkan oleh sektor industri, keberadaan sektor industri pengolahan garam menjadi salah satu jawaban atas permasalahan tersebut. Sebagaimana garam yang menjadi bahan baku penting dalam beberapa sektor industri, maka pasokannya harus selalu dijaga untuk mewujudkan kestabilan usaha, iklim investasi yang kondusif, serta untuk terus menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang banyak. Komitmen para usaha industri pengolahan garam sangat dibutuhkan untuk dapat menyerap produksi petambak garam, sehingga dapat mewujudkan kolaborasi yang baik antara perusahaan dan petambak garam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here