Beranda Kolom Upaya Peningkatan Produksi Garam dengan Sea Water Filter with Circle Method

Upaya Peningkatan Produksi Garam dengan Sea Water Filter with Circle Method

produksi garam
Oleh : Rahmat Satriadi

Garam sudah akrab dengan kehidupan manusia sejak dahulu. Di Indonesia, garam sudah mulai dikenal sejak abad IX-X Masehi. Pada masa Hindia Belanda, garam menjadi komoditas ekspor Jawa ke Sumatera, Sulawesi dan Maluku. Garam menjadi komoditas penting pada masa pendudukan Belanda di Indonesia. Bahkan, Indonesia pernah menjadi eksportir garam pada masa Hindia Belanda. Sehingga tak heran, garam menjadi komoditas strategis yang menjadi perhatian hingga saat ini. (Rochwulaningsih, 2012)

Pada masa sekarang, penggunaan garam menjadi kian kompleks dan tak sesederhana dulu. Garam tak hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga tetapi juga digunakan untuk berbagai kegiatan industri. Berbagai kebutuhan garam industri antara lain industri perminyakan, kertas, tekstil, farmasi dan berperan dalam proses kimia dasar pembuatan soda dan chlor.

Realita Produksi dan Kebutuhan Garam

Kebutuhan garam nasional berada pada kisaran angka 4,2 juta ton pertahun (Kompas, 2018). Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa produksi garam nasional terus meningkat dalam 3 tahun terakhir. Pada tahun 2016, produksi garam hanya 168.054 ton. Namun pada tahun 2017, produksi garam meningkat jauh lebih baik menjadi 1,11 juta ton. Pada tahun 2018, hasil produksi garam dalam negeri naik melampaui target yang ditetapkan semula sebesar 1,5 juta ton yakni menjadi 2,71 juta ton.

Menurut  data  dari  Kementerian  Perindustrian,  pada  tahun  2013 kebutuhan  garam  di  dalam  negeri  mencapai  3  juta  ton  per  tahun  dengan rincian  garam konsumsi sebanyak 1,4  juta  ton  dan  garam industri sebanyak 1,6  juta  ton.  Sementara  produksi  garam  rakyat  pada  tahun  2013  tercatat  sebesar 1.319.607  ton.  Dari  jumlah  tersebut  bisa  mencukupi  kebutuhan  garam konsumsi  nasional  sebesar  1.242.170  ton. (Badan  Pusat  Statistik  RI,  2014).

Berdasarkan data di atas, Indonesia belum mampu  mencukupi  kebutuhan  garam nasional,  sehingga  pemerintah memutuskan kebijakanimpor garam menjadi  salah  satu solusi jangka pendek.

Kebijakan impor garam banyak disayangkan oleh masyarakat. Bagaimana tidak, negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia ini harus impor garam. Padahal secara geografis, kondisi wilayah Indonesia menawarkan sumber daya garam yang ‘melimpah’. Namun, nyatanya kondisi ini tidak serta merta membuat Indonesia mampu memproduksi garam untuk setidaknya memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Produksi garam di Indonesia masih memiliki beberapa kendala sehingga harus ‘kalah’ dengan negara lain yang memiliki garis pantai lebih pendek dari Indonesia. Beberapa kendala produksi garam di Indonesia adalah teknis produksi, iklim, produktivitas lahan, kualitas produk serta sarana dan prasana. Oleh karena itu, dibutuhkan metode produksi garam yang dapat meningkatan kualitas dan kuantitas produksi garam di Indonesia.

Metode Sederhana dengan Hasil yang Tak Biasa

Sea water filter with circle method dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatan kualitas dan kuantitas produksi garam di Indonesia. Sea water filter with circle method adalah teknologi sederhana untuk menghilangkan endapan kotoran pada air laut tanpa menghilangkan kandungan garamnya. Metode ini menggunakan saluran berbentuk lingkaran dengan tujuan mempercepat proses penuaan air laut sehingga saat tiba di petak penampungan sudah mencapai 20 BeO.

Sea water filter with circle method terdiri atas saluran primer, kolam penampungan air muda (buffer), kolam penguapan, kolam ulir, kolam penampungan air tua (bunker), kolam penggorengan, meja garam, kincir, dan mesin pompa. Selain itu, digunakan pula filter yang terdiri dari sabut kelapa, kapas rapat, pasir dan arang aktif. Konsep dari metode ini adalah selokan lingkaran yang dialasi oleh tembok untuk mempercepat proses penuaan air laut.

Gambar 1. Proses Produksi Garam dengan Sea Water Filter with Circle Method

Proses Produksi Garam dengan Sea Water Filter with Circle Method terdiri dari beberapa tahapan yaitu :

  1. Air masuk dari saluran primer. Kemudian, air dialirkan ke penampungan pertama (buffer) 2-3 BeO dengan kedalaman 50 cm menggunakan kincir.
  2. Air dari buffer yang sudah dipasang filter dialirkan ke meja penguapan 3-4 BeO dengan ketinggian air 10-15 cm.
  3. Kemudian, air dialirkan  lagi ke  meja  ulir  pertama dengan 4 – 6 Be°.
  4. Setelah itu, air pada meja ulir pertama yang  sudah  dipasang  filter dialirkan  ke  meja  ulir  kedua dengan 8 – 10 Be°, kemudian masuk ke meja ulir ketiga  yang  sudah dipasang  filter  dengan  12  –  15 Be°.
  5. Selanjutnya,  alirkan  air  ke bunker  (tempat  penyimpanan  air tua)  yang  sudah  dipasang  filter dan biarkan selama 2  –  3 hari. Apabila belum  mencapai  20  –  25  Be°, air tua  dari  bunker  diulir  kembali ke  ulir  pertama  atau menggunakan  meja  kristal sebagai  ulir  lanjutan  sebelum menjadi  air  tua  20  –  25  Be°.
  6. Setelah  mencapai  20  –  25  Be°, suplai  air  tua  ke  meja-meja  kristal  melalui  meja penggorengan.
  7. Lakukan  pengerasan  pada  meja penggorengan  minimal  dua  kali pemadatan.
  8. Alirkan  ke  meja  kristal  yang salurannya  sudah  dipasang  filter lalu  diamkan  selama  10  hari dengan ketinggian air 5 – 10 cm.
  9. Setelah  10  hari, lakukan pemanasan untuk mendapatkan endapan garam.

Manfaat Sea Water Filter with Circle Method

Penggunaan metode Sea Water Filter with Circle Method untuk proses produksi garam memberikan manfaat pada beberapa aspek dalam rangka meningkatkan produksi garam di Indonesia. Beberapa aspek tersebut antara lain

  1. Lahan

Metode Sea Water Filter with Circle Method dapat menggunakan lahan yang sempit. Hal ini dapat mempermudah petani garam terutama yang masih memiliki keterbatasan dana.

  • Kandungan Iodium

Garam yang dihasilkan dari metode ini menghasilkan garam dengan kadar iodium yang tinggi karena endapan kotoran yang melekat pada garam sudah dipisahkan.

  • Ekonomi

Produksi garam dengan metode ini mampu menghasilkan garam dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi. Sehingga, garam Indonesia memiliki nilai jual yang tinggi dan pemerintah dapat mengurangi atau bahkan tidak perlu impor garam dari luar negeri.

  • Industri

Berbagai industri dapat semakin berkembang karena kebutuhan garam dapat terpenuhi.

Kesimpulan

Untuk mewujudkan kedaulatan garam di Indonesia, perlu adanya koordinasi dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, perusahaan penghasil garam, petani garam, dan masyarakat. Penggunaan metode Sea Water Filter With Circle Method untuk meningkatkan proses produksi garam harus dilakukan secara masif, terstruktur dan terorganisasi dengan baik. Sehingga, impian untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang mampu swasembada garam tak hanya sekadar angan.

Daftar Pustaka

  1. Akhdi Martin Pratama, “Kebutuhan Garam Nasional Capai 4,2 Juta Ton Per Tahun“, diakses dari https://ekonomi.kompas.com/read/2018/08/14/204555326/kebutuhan-garam-nasional-capai-42-juta-ton-per-tahun, pada tanggal 29 Mei 2019.
  2. Badan  Pusat  Statistik  RI.  2014.  Data  Kebutuhan  dan  Produksi  Garam  Nasional  2004-2013. Jakarta: tidak diterbitkan.
  3. Badan Riset Kelautan dan Perikanan.  2001.  Proceding  Forum  Pasar  Garam  Indonesia.  Jakarta:  Departemen Kelautan Dan Perikanan.
  4. Drajat, “Masalah dan Kendala Produksi Garam Rakyat”, diakses dari http://www.bppp-tegal.com/web/index.php/artikel/188-masalah-dan-kendala-produksi-garam-rakyat, pada tanggal 23 Mei 2019.
  5. Hajra Y., Desi H.S., Nur I.U. Sea Water Filter with Circle Method untuk Meningkatkan Produksi Garam Beryodium Menuju Pencapaian Swasembada Garam Nasional Yang Berkelanjutan. Jurnal PENA, Volume 2, Nomor 1, ISSN 2355-3766.
  6. Michael Reily, “KKP Minta Akurasi Data Klasifikasi Kebutuhan Garam Industri”, diakses dari https://katadata.co.id/berita/2019/03/03/kkp-minta-akurasi-data-klasifikasi-kebutuhan-garam-industri, pada tanggal 29 Mei 2019.
  7. Rochwulaningsih, Yety. Pendekatan Sosiologi Sejarah Pada Komoditas Garam Rakyat : Dari Ekspor Menjadi Impor. Paramita Vol. 22, No. 1 – Januari 2012: 1-130.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here