Urgensi Pemurnian Garam Untuk Meningkatkan Kualitas Garam di Indonesia

Kualitas garam lokal yang dihasilkan petani garam melalui proses evaporasi air laut berkisar 85-95%. Kadar ini masih dibawah standar garam industri yang membutuhkan garam dengan kemurnian 98,5%. Kualitas garam lokal harus ditingkatkan dan diperbaiki dengan beberapa metode pemurnian.

kualitas garam
Oleh : Nasrul Maliki

Garam adalah benda padat berwarna putih berbentuk Kristal yang merupakan kumpulan senyawa dengan bagian terbesar Natrium Chlorida (>80%) serta senyawa lainnya, seperti Magnesium Chlorida, Magnesium sulfat, dan Calsium Chlorida. Sumber garam yang didapat di alam berasal dari air laut, air danau asin, deposit dalam tanah, tambang garam, sumber air dalam tanah.[1]

Garam salah satu bahan kimia yang sering dimanfaatkan oleh manusia khususnya dalam bidang konsumsi. Penyusun terbesar garam yaitu senyawa Natrium Klorida. Selain NaCl terdapat pula bahan pengotor antara lain CaSO4 MgSO4 MgCl2 dan lain-lain.[2]

Komponen – komponen tersebut mempunyai peranan yang penting bagi tubuh manusia, sehingga diperlukan konsumsi garam dengan ukuran yang tepat untuk menunjang kesehatan manusia. Konsumsi garam per orang per hari diperkirakan sekitar 5 – 15 gram atau 3 kilogram per tahun per orang

Di Indonesia, garam sebenarnya dapat menjadi komoditi yang strategis, baik sebagai bahan konsumsi maupun bahan baku industri. Dengan garis pantai sepanjang 95.181 km, Garis pantai Indonesia adalah salah satu garis pantai terbesar kedua di dunia sehingga, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu penghasil garam dunia.Namun, hingga saat ini Indonesia masih mengandalkan impor garam dari Australia.

Kualitas garam lokal yang dihasilkan petani garam melalui proses evaporasi air laut sendiri masih berkisar 85-95%. Kadar ini masih dibawah standar garam industri yang membutuhkan garam dengan kemurnian 98,5%. Maka kualitas garam Indonesia atau lokal harus ditingkatkan dan diperbaiki secara bentuk fisik maupun kualitas dalam garam tersebut dengan beberapa metode pemurnian untuk mendapatkan kualitas garam dapur atau pemurnian standar garam industri.

Pemurnian garam menggunakan filter bentonit sebagai bahan pengikat impuritas dalam proses kristalisasi telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas dan kondisi optimal dalam proses pemurnian garam menggunakan bentonit dalam proses kristalisasi dan model pembuatan uap air laut. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel garam kotor dan karakterisasinya. Kemudian sampel dimurnikan dengan menggunakan bentonit sebagai pengikat impuritas antara lain Ca dan Mg dalam proses kristalisasi.

Efektivitas pemurnian ditentukan berdasarkan kualitas garam hasil yang diperoleh lalu dibandingkan dengan standar kualitas garam baku sesuai SNI garam 2000. Kemurnian garam juga diuji dengan XRD dan hasilnya dibandingkan dengan NaCl standar. Hasil ini  menunjukkan bahwa bentonit dapat digunakan secara efektif dalam pemurnian garam dapur melalui proses kristalisasi. Aktivasi bentonit dengan larutan H2SO4 0,1 M dapat meningkatkan kualitas hasil rekristalisasi. Rekristalisasi menggunakan bentonit yang telah diaktivasi dengan larutan H2SO4 0,1 M sebagai pengikat impuritas dapat meningkatkan kualitas kemurnian garam dapur secara efektif.

Untuk meningkatkan kualitas produk garam dilakukan pemurnian dengan menggunakan zeolit alam sebagai bahan pengikat impuritas sebelum proses kristalisasi. Pada tahap awal di lakukan pelarutan garam dapur sehingga diperoleh larutan jenuh dengan kekentalan (oBe) tertentu. Selanjutnya ke dalam larutan garam jenuh tersebut ditambahkan zeolit dengan perbandingan berat zeolit/volume larutan 1:10 g/mL. Selanjutnya campuran tersebut diguncang menggunakan orbital shaker selama 3 jam. Campuran disaring menggunakan kertas saring sehingga fase padat terpisah dari filtrat. Filtrat yang diperoleh selanjutnya diuapkan menggunakan cawan porselin untuk proses kristalisasi. Produk kristal NaCl yang diperoleh selanjutnya dikeringkan dalam oven selama 2 jam pada temperatur 110oC. Produk NaCl selanjutnya dianalisis komposisinya yang meliputi kadar NaCl, kadar air, Ca2+ dan Mg2+ sesuai prosedur SNI 2000.

Proses analisis dilakukan masing-masing tiga kali pengulangan untuk setiap perlakuan pemurnian garam. Dalam penelitian dipelajari pengaruh konsentrasi atau kekentalan larutan garam, ukuran partikel zeolit dan perlakuan awal zeolite.

Hasil karakterisasi difraksi sinar-X (XRD) zeolit alam nonaktivasi dan teraktivasi yang digunakan dalam proses pemurnian garam dapur sebelum rekristalisasi disajikan pada Gambar 2. Berdasarkan pola difraksi sinar X dalam Gambar 5.2, zeolit alam yang digunakan ini dapat diidentifikasi sebagian besar sebagai clinoptilolite dan mordenit, karena mempunyai tiga puncak yang karakteristik pada 2θ = 9,89; 22,45 and 30.[3] Aktivasi zeolit menggunakan larutan HCl 0,1M bertujuan untuk mengeluarkan oksida bebas dari logam-logam Fe, Mg, Ca dan zat lain yang terikat di sekitar kristal zeolit. Puncak yang muncul pada 2θ 20,90640 ; 26,68000 ; 36,57000 , merupakan puncak untuk kuarsa (Quartz), JCPDS no 5-0490. Puncak pada 2θ 6,48000 ; 14,44000 ; 19,17200 ; 22,34180 ; 25,32000 dan 27,79890 merupakan puncak untuk mineral mordenit (kristal zeolit), JCPDS no 6-239.

Dalam tahap ini dilakukan pemurnian garam krosok menggunakan zeolit sebelum proses kristalisasi. Proses pemurnian dilakukan dengan variasi konsentrasi (kekentalan) larutan garam krosok, ukuran zeolit dan perlakuan awal zeolit. Sebanyak 200 ml dari ketiga larutan garam tersebut masing-masing dimasukkan zeolit alam sebanyak 20 gram.[4]

Maka apabila kualitas garam baik atau berkualitas dari pemurnian garam menjadikan harga saing di kanca internasional lebih tinggi. Dan menjadikan ekonomi pembuat garam meningkat, serta tidak perlu adanya impor dari Negara lain kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin. 2001. Proceeding Forum Pasar Garam Indonesia. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Muryati. 2008. Pemisahan dan Pemanfaatan Bitern Sebagai Salah Satu Upaya Peningkatan Pendapatan Petani Garam. Buletin Penelitian dan Pengembangan Industri No. 2/Vol.II/Februari Semarang

Achanai, B., 2008, Use of natural clinoptilolite for the removal of lead(II) from wastewater in batch experiment, Chiang Mai J. Sci. 35 ,3 447 – 456

Jumaeri, 2017, Inovasi Pemurnian Garam (Natrium Klorida) Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Pengikat Impuritas Dalam Prose Kristalisasi, Vol. 15 No. 2, 150-152


[1] Burhanuddin. 2001. Proceeding Forum Pasar Garam Indonesia. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta

[2] Muryati. 2008. Pemisahan dan Pemanfaatan Bitern Sebagai Salah Satu Upaya Peningkatan Pendapatan Petani Garam. Buletin Penelitian dan Pengembangan Industri No. 2/Vol.II/Februari Semarang

[3] Achanai, B., 2008, Use of natural clinoptilolite for the removal of lead(II) from wastewater in batch experiment, Chiang Mai J. Sci. 35 ,3 447 – 456

[4] Jumaeri, 2017, Inovasi Pemurnian Garam (Natrium Klorida) Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Pengikat Impuritas Dalam Prose Kristalisasi, Vol. 15 No. 2, 150-152

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here