Visibilitas Industrialisasi Garam di Provinsi NTT

panen garam kristal di Malaka NTT

Oleh: M Rabi’e
Pemenang juara tiga lomba esai Garampedia Tahun 2021

Garam nasional belum mencukupi kebutuhan industri. Investasi industri yang menggunakan bahan baku garam semakin meningkat. Sementara produksi garam seringkali terganggu dengan cuaca, disamping masalah mutu dan produktivitas. Cuaca selama 2020 terjadi anomali iklim di Samudra Pasifik, sehingga curah hujan meningkat di sebagian besar kawasan Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, tahun 2020 Indonesia memproduksi garam turun menjadi 1,3 juta ton dari 2,7 juta ton di tahun lalu. Nilai tersebut baru kalkulasi kuantitas produksi, belum menyinggung kualitas garam yang dihasilkan.

Mutu dan poduktivitas dapat dicapai dengan proses pembuatan garam yang ‘ketat’. Ketat berarti proses produksi garam yang sesuai dengan standar operasional produksi (SOP). Garam yang sesuai standar industri harus memperhatikan proses permurnian dan kristalisasi yang baik dan benar. Petani garam belum ajeg menerapkan standar tersebut karena minim infrastruktur dan pengetahuan, sedangkan kebutuhan garam untuk industri memerlukan standar khusus. Oleh karena itu, kebutuhan industri dapat dipenuhi dengan mekanisme industrialisasi garam, dan secara bersamaan memberdayakan petani garam lokal.

Meningkatnya permintaan pasar terhadap garam kualitas tinggi, maka dibutuhkan ekspansi industrialisasi garam. Potensi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai penghasil garam, disebut garampedia.com, sebagai potensi yang telah lama ‘tertidur’. Disamping wilayahnya yang dikelilingi lautan, juga musim kemarau yang sangat panjang. Namun, sampai detik ini baru 10 persen lahan yang digarap, atau enam kabupaten dari 22 kabupaten potensial di NTT yang terdaftar sebagai daerah produksi garam. Skala industri sudah digarap oleh tiga perusahaan yang sudah mendapat kontrak dari Pemprov NTT. Salah satu diantaranya, PT. Cakrawala Timur Sentosa di Desa Baubau, Kupang, yang telah menghasilkan produksi sebanyak 10 ribu ton garam industri pada tahun pertama beroperasi.

Analisis kelayakan (visibility) dibutuhkan jauh sebelum industrialisasi dilakukan, sehingga proyek disebut layak atau tidak layak dilanjutkan. Studi visibilitas mengacu pada analisis serangkaian pertimbangan tertentu (Matson, 2004), dan juga mempertimbangkan semua faktor ekonomi dan non-ekonomi (Graaskamp, 1970). Beberapa pertimbangan meliputi aspek rasional, aspek cost (biaya), aspek sosial, dan aspek lingkungan politik. Empat sudut analisis itu akan membantu policy maker dalam membuat suatu keputusan.

Pertama adalah aspek rasional. Kebijakan swasembada garam nasional yang berkelanjutan mengandung makna penting bagi Indonesia. Dengan tercapainya swasembada tidak hanya akan membangkitkan geliat usaha garam lokal, tetapi juga dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya sektor industri nasional. Dampaknya, garam menjadi sumber devisa negara bahkan menghemat pengeluaran karena tidak perlu impor garam. Sampai di sini, sangat logis industrialisasi garam dilakukan di berbagai daerah potensial, termasuk di Provinsi NTT yang belum maksimal dimanfaatkan.

Kedua adalah aspek cost. Menghitung biaya tidak hanya biaya produksi, tetapi juga biaya distribusi. Biaya produksi dapat ditangani oleh investor yang akan menanam  modal, tetapi tahapan distribusi tetap membutuhkan bahu pemerintah. Distribusi membutuhkan moda transportasi yang murah, baik darat maupun laut, serta akses jalan yang baik. Bagian ini penting untuk stabilitas harga garam. Mengingat mayoritas perusahaan industri ada di pulau Jawa, maka penting biaya distribusi yang terjangkau agar harga garam tetap bersaing.

Ketiga adalah aspek sosial. Meskipun industrialisasi mengarah pada mekanisasi produksi, tetapi tidak melupakan kehidupan sosial di sekitarnya. Bagian ini seringkali menjadi kunci, bahwa rencana industrialisasi akan melibatkan petani garam lokal. Perseroan akan membantu petani lokal dalam akses lapangan kerja, modal, dan pemberdayaan. Termasuk lahan atas nama rakyat dapat dikomunikasikan dengan penawaran mufakat, sehingga terhindar dari segala bentuk pertentangan. Dalam operasionalnya, tokoh adat, agama, dan tokoh lokal lainnya bisa menjadi garda terdepan dengan dukungan penuh pemerintah.

Keempat adalah aspek lingkungan politik. Rencana pembangunan industri sudah pasti melalui forum politik, baik di level eksekutif maupun legislatif. Bagian ini menjadi tantangan tersendiri karena conflict of interest sangat tinggi. Pendekatan secara elegan tentu dapat dilakukan. Pihak yang kontra sudah pasti ada, tetapi forum diarahkan pada argumen pemanfaatan potensi dan kepentingan ekonomi nasional. Lobi politik tetap dibutuhkan guna menghindari resintensi lebih luas.

Pemerintah daerah sudah saatnya serius memikirkan agenda industrialisasi garam di NTT. Pemda kabupaten maupun provinsi dapat melakukan analisis visibilitas lebih lanjut, guna memperdalam tulisan singkat ini. Berdasarkan analisis aspek logika, cost, sosial, dan politik, proyek industrialisasi tidak hanya dimaksudkan untuk capaian swasembada garam nasional, tetapi juga dalam rangka membangun kekuatan ekonomi berdaulat yang mensejahterakan petani garam lokal.

Kerjasama antar stakeholder menjadi fondasi penting. Pendekatan dalam menciptakan sinergi kerjasama dari tiga aktor yaitu akademisi, perusahaan, dan pemerintah tidak hanya untuk terselenggaranya industrialisasi, tetapi juga membangun ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Sistem industri garam penuh perhitungan secara teknis-inovatif, ekonomi, dan juga sosial. Harapannya, industrialisasi garam di NTT tidak hanya dalam rangka memanfaatkan potensi, tetapi juga untuk kemaslahatan ekonomi masyarakat lokal dan nasional.

Referensi

Graaskamp, J. (1970). A Guide to Feasibility Analysis. Chicago: Society of Real Estate Appraisers.

Matson,     J.     (2004).      The     Cooperative      Feasibility     Study     Process.

Garampedia.com. Produksi Turun, Cuaca Jadi Kendala Pengolahan Industri Garam.

Garampedia.com. Potensi Garam NTT Cukup Lama Tertidur.

Garampedia.com. Potensi Industrialisasi Garam NTT Digarap 10 Persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here